Pemerintah Kabupaten Subang melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) berkolaborasi dengan Politeknik Negeri Subang (POLSUB) meluncurkan inovasi pertanian modern berupa budidaya melon dengan Teknologi Hidroponik Machida. Langkah strategis ini terbukti mampu mendongkrak produktivitas tanaman melon secara signifikan dibandingkan dengan metode konvensional.
Keberhasilan teknologi ini dipamerkan dalam agenda Diseminasi Hasil Penelitian sekaligus Panen Raya yang berlangsung di Taman Wisata Melon SP Farm, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Subang. Inovasi ini digadang-gadang menjadi katalis positif bagi penguatan sektor agrowisata lokal serta peningkatan kesejahteraan para petani setempat.
Teknologi Hidroponik Machida bekerja dengan cara memperluas media perakaran tanaman. Metode ini memungkinkan satu pohon melon, yang biasanya hanya memproduksi satu hingga dua buah pada sistem konvensional, kini mampu menghasilkan rata-rata 13 hingga 17 buah dengan kualitas buah yang seragam dan rasa manis yang konsisten.
Direktur POLSUB, Oyok Yudiyanto, menjelaskan bahwa kerja sama riset ini bertujuan menghadirkan solusi konkret yang berdampak langsung pada efisiensi pertanian. Menurutnya, buah yang dihasilkan tidak hanya melimpah secara kuantitas, tetapi juga memiliki daya tarik visual yang tinggi sehingga sangat potensial untuk mendukung konsep wisata petik melon.
Sementara itu, Kepala Bapperida Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, mengapresiasi keberhasilan penerapan konsep pentahelix ini. Baginya, sinergi antara pemerintah, akademisi, kelompok tani, dan pelaku usaha merupakan kunci utama dalam membangun ekosistem riset yang memperkuat ketahanan pangan dan daya saing daerah.
Selain produktivitas yang melimpah, melon hasil budidaya ini menawarkan sensasi rasa baru berupa daging buah yang renyah namun tetap manis. Saat ini, melon berkualitas premium tersebut dipasarkan dengan harga Rp35.000 per kilogram, yang dapat dibeli langsung oleh pengunjung di area agrowisata.