Banyak orang memilih jenis olahraga hanya berdasarkan tren kebugaran atau target penurunan berat badan. Namun, sebuah studi ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa keselarasan antara tipe kepribadian dan jenis aktivitas fisik memegang peranan krusial dalam menjaga konsistensi latihan dalam jangka panjang.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology ini melibatkan 132 partisipan berusia 25 hingga 51 tahun. Para peneliti menganalisis karakter kepribadian peserta menggunakan model lima besar sifat manusia (Big Five), yang meliputi ekstroversi, neurotisme, keramahan, keterbukaan, dan ketelitian, sebelum membagi mereka ke dalam program latihan selama delapan minggu.

Hasil penelitian menunjukkan korelasi kuat antara sifat psikologis dan preferensi latihan. Individu dengan karakter ekstrovert cenderung lebih menikmati olahraga beregu atau latihan kelompok berintensitas tinggi. Sebaliknya, mereka yang memiliki tingkat neurotisme tinggi—atau rentan terhadap kecemasan dan stres—lebih memilih latihan privat yang tenang tanpa pengawasan orang lain, diselingi dengan waktu istirahat singkat.

Di sisi lain, partisipan dengan tingkat ketelitian (conscientiousness) yang tinggi cenderung memiliki kebugaran menyeluruh yang lebih baik karena termotivasi oleh manfaat kesehatan jangka panjang. Menariknya, kelompok dengan tingkat neurotisme tinggi menjadi satu-satunya pihak yang melaporkan penurunan tingkat stres yang signifikan setelah rutin berolahraga, meskipun tubuh mereka memerlukan waktu pemulihan fisik yang lebih lama.

Profesor Madya Ilmu Olahraga dari University College London, Flaminia Ronca, menjelaskan bahwa memahami kecocokan kepribadian dengan intensitas latihan dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk mendorong masyarakat yang pasif agar mulai bergerak. Senada dengan itu, pakar dari Florida State University, Angelina Sutin, menambahkan bahwa pendekatan personal berbasis psikologi ini dapat membantu praktisi kesehatan memberikan rekomendasi olahraga yang lebih tepat sasaran bagi setiap individu.