Aksi gotong royong warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Aceh, baru-baru ini menyita perhatian publik. Mereka berhasil merampungkan perbaikan Jalan dan Jembatan Enang-Enang yang hancur diterjang bencana akhir 2025 dengan mengumpulkan dana swadaya sebesar Rp 1,08 miliar. Padahal, akses tersebut merupakan urat nadi vital menuju Dataran Tinggi Gayo yang berstatus jalan nasional.
Sangat ironis melihat masyarakat harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Padahal, setiap warga telah menunaikan kewajiban mereka membayar pajak sebagai bentuk kontrak sosial. Namun, ketika bencana melanda, negara justru berdalih soal kewenangan dan keterbatasan anggaran, membiarkan warga terisolasi tanpa akses yang layak.
Pemerintah berdalih melakukan efisiensi besar-besaran melalui pemangkasan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum pada 2025. Dana tanggap darurat yang seharusnya menjadi jaring pengaman bagi wilayah rawan bencana justru ikut tergerus. Di sisi lain, anggaran negara justru dialokasikan untuk program-program yang dianggap lebih mendesak menurut kacamata pusat, mengabaikan realitas di lapangan yang mempertaruhkan hidup-mati warga desa.
Kesenjangan pendanaan ini menciptakan ketimpangan antarwilayah yang semakin nyata. Proyek-proyek infrastruktur yang tidak memberikan keuntungan bisnis, seperti jembatan di pelosok, sering kali terabaikan oleh skema kerja sama badan usaha. Akibatnya, masyarakat pinggiran terpaksa mengambil alih peran pemerintah demi keberlangsungan aktivitas ekonomi dan pendidikan mereka.
Gotong royong adalah warisan budaya yang luhur, namun seharusnya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti peran negara. Kehadiran pemerintah bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan jaminan bahwa pajak rakyat kembali ke pelayanan publik yang nyata. Mengutip semangat Franklin D. Roosevelt, ukuran kemajuan suatu bangsa bukan dilihat dari kemewahan bagi segelintir orang, melainkan dari keberhasilan negara menyediakan akses bagi mereka yang paling membutuhkan.