Indonesia secara resmi menginisiasi pengembangan vaksin demam berdarah (dengue) berbasis teknologi mRNA, sebuah terobosan medis yang diproyeksikan menjadi yang pertama di dunia. Peluncuran purwarupa vaksin bertajuk 'Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA' ini berlangsung di Jakarta, menandai sinergi riset lintas negara antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.
Proyek ambisius ini memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) dari strain virus dengue asli Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa keberhasilan pengembangan vaksin ini akan memposisikan Indonesia sebagai produsen vaksin dengan teknologi mutakhir yang mampu bersaing di kancah global. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional pasca-pandemi COVID-19.
Dalam upaya mencapai kemandirian farmasi, pemerintah menargetkan agar Indonesia mampu memproduksi 16 jenis antigen untuk imunisasi rutin secara mandiri dari hulu ke hilir sebelum tahun 2030. Saat ini, ekosistem riset dan produksi vaksin dalam negeri telah berkembang dengan keterlibatan empat perusahaan farmasi utama, yakni Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya model kolaborasi riset berbasis aksi nyata antara akademisi dalam negeri dan pakar internasional seperti Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University. Menurutnya, pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar seremoni formalitas dalam membangun kapabilitas riset.
Pemilihan demam berdarah sebagai fokus utama pengembangan vaksin bukan tanpa alasan. Data Kementerian Kesehatan mencatat angka beban penyakit yang tinggi dengan rata-rata 151 ribu kasus per tahun dan ratusan angka kematian. Melalui inovasi ini, pemerintah berharap dapat menekan angka penyebaran virus sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku vaksin secara bertahap.