Tim Program Studi Teknik Pertanian (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menginisiasi rancangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdistribusi dan teknologi pascapanen di Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Langkah strategis ini diambil guna mengatasi keterbatasan pasokan listrik yang belum beroperasi penuh selama 24 jam di wilayah tersebut.
Ketua Tim VII TEP Unhas, Dianti Utamidewi, mengungkapkan bahwa minimnya akses listrik yang konsisten menghambat aktivitas krusial masyarakat, mulai dari layanan kesehatan, kegiatan belajar di sekolah, hingga sektor produktif. Di sisi lain, potensi komoditas pala yang melimpah belum tergarap optimal karena proses pengolahan pascapanen masyarakat setempat masih sangat tradisional.
Guna mendongkrak mutu dan nilai jual komoditas unggulan tersebut, tim akademisi ini menawarkan solusi berupa teknologi solar dryer (alat pengering tenaga surya) untuk mengolah biji dan fuli pala. Sistem pengeringan ini nantinya akan diintegrasikan dengan PLTS terdistribusi yang disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas publik dan pusat pengolahan pertanian warga.
Rencana penerapan teknologi ini juga mencakup perbaikan tata niaga dan tata kelola lokal. Pemanfaatan fasilitas energi baru terbarukan ini rencananya akan dikelola oleh lembaga lokal seperti koperasi, Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), kelompok tani, hingga pemerintah kampung agar keberlanjutannya tetap terjaga setelah program selesai.
Gagasan ini mendapat respons positif dari Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, serta para kepala kampung setempat yang mengakui perlunya pendampingan teknologi untuk mendongkrak nilai tambah sektor pertanian. Rencana kerja ini dibahas secara mendalam dalam diskusi kelompok terarah (FGD) bersama Kementerian Transmigrasi RI di SMP Negeri Fakfak Timur pada Jumat (14/8/2026).