Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi mengakhiri masa jabatan Chief Operating Officer (COO) mereka, Kevin Lamour, per 17 Agustus 2026. Keputusan pemecatan ini diambil menyusul kritik terbuka yang dilayangkan Lamour terhadap rencana kontroversial Presiden FIFA Gianni Infantino untuk melibatkan investasi swasta dalam hak komersial Piala Dunia.
Langkah tegas badan pengatur sepak bola dunia ini terjadi kurang dari tiga pekan setelah Lamour secara vokal menentang proyek bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Dalam pandangan mantan petinggi UEFA tersebut, proyek FFE dinilai terlalu sentralistis dan kurang transparan dalam proses penyusunannya, sehingga memicu keresahan di kalangan internal organisasi.
Rencana investasi FFE itu sendiri menargetkan suntikan dana segar senilai US$20 miliar dengan melepas 20 persen kepemilikan saham entitas komersial baru FIFA kepada pihak swasta. Namun, akibat gelombang penolakan dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola global, megaproyek tersebut akhirnya terpaksa ditangguhkan.
Meskipun FIFA berdalih bahwa kepergian Lamour merupakan hasil kesepakatan bersama, tidak dapat dimungkiri bahwa momentum ini memperlihatkan retaknya hubungan internal. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, secara formal menyampaikan apresiasi atas dedikasi Lamour yang telah menjabat sejak November 2024 setelah sebelumnya hengkang dari UEFA.
Hengkangnya Lamour menambah panjang daftar pejabat teras yang meninggalkan lingkaran kepemimpinan Infantino setelah sebelumnya penasihat senior Carlos Cordeiro juga mengundurkan diri karena alasan serupa. Gonjang-ganjing internal ini kian menyudutkan posisi Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA mendatang, di mana sejumlah asosiasi anggota dilaporkan mulai menarik dukungan mereka.