Peneliti dari Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan University College London (UCL) dan Universitas Indonesia merilis hasil riset penting mengenai evaluasi alat ukur tumbuh kembang anak. Studi ini menyoroti perlunya penyesuaian instrumen penilaian standar global, khususnya dalam mengukur kemampuan bahasa anak-anak di Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa.
Penelitian bertajuk "Language Variations in Standardised Assessments: Evidence From Indonesia" ini melibatkan 300 balita berusia 18 hingga 24 bulan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Wilayah ini dipilih karena anak-anak di sana didominasi oleh penutur bahasa Sasak namun juga terpapar bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Para peneliti menguji efektivitas instrumen Bayley-4, sebuah alat ukur internasional untuk menilai kemampuan komunikasi reseptif dan ekspresif balita.
Hasil studi menunjukkan bahwa instrumen standar global tidak bisa langsung diterapkan begitu saja tanpa adaptasi kultural. Peneliti menemukan hanya 42 persen item komunikasi reseptif yang sesuai dengan urutan perkembangan asli instrumen tersebut. Sementara itu, untuk kategori komunikasi ekspresif, sekitar 58 persen item masih dapat dipertahankan untuk digunakan.
Ketidaksesuaian ini dipicu oleh perbedaan kosakata harian, visualisasi gambar yang asing bagi anak daerah, serta perbedaan pola interaksi sosial. Ketika seorang anak gagal menjawab tes dengan benar, hal itu tidak serta-merta menunjukkan adanya keterlambatan perkembangan bahasa. Hambatan tersebut sering kali bersumber dari instrumen penilaian yang kurang peka terhadap konteks lokal anak.
Rekomendasi dari riset ini menjadi pijakan penting bagi para praktisi kesehatan dan pendidikan anak di Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, pengembangan alat asesmen perkembangan anak yang adil dan kontekstual menjadi kebutuhan mendesak agar hasil diagnosis tumbuh kembang anak menjadi lebih akurat dan objektif.