Pasar modal Indonesia mengawali pekan ini dengan catatan positif. Indeks Bisnis-27 ditutup menguat sebesar 2,11 persen atau 8,59 poin ke level 415,68 pada perdagangan Senin (13/7/2026). Pergerakan ini sekaligus mempertegas tren pemulihan indeks yang telah membukukan penguatan selama delapan dari sembilan hari perdagangan terakhir di bulan Juli.
Kinerja impresif ini utamanya didorong oleh dominasi saham-saham sektor perbankan. Nama-nama besar seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI kompak mencatatkan kenaikan, dengan BMRI memimpin penguatan sebesar 4,17 persen. Secara keseluruhan, sebanyak 21 konstituen indeks berakhir di zona hijau, sementara tiga saham lainnya terpaksa melemah dan tiga saham sisanya stagnan.
Volume transaksi pada hari ini mencapai 4,32 miliar saham dengan nilai turnover menyentuh Rp4,79 triliun. Meskipun secara akumulatif indeks telah menguat 3,61 persen dalam sepekan terakhir, posisi indeks saat ini masih menunjukkan koreksi sebesar 24,86 persen secara year-to-date, merefleksikan kondisi pasar yang menantang sejak awal tahun.
Di sisi lain, para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data inflasi (CPI) Amerika Serikat yang diprediksi akan menjadi acuan utama bagi arah kebijakan suku bunga global. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyoroti bahwa perhatian investor juga tertuju pada pidato pejabat The Fed serta kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.
Selain sentimen global, pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi variabel krusial bagi pasar domestik. Pada penutupan hari ini, mata uang Garuda melemah ke level Rp18.109 per dolar AS. Ketidakpastian geopolitik global diprediksi masih akan menjadi bayang-bayang yang mempengaruhi dinamika pasar saham domestik dalam beberapa hari ke depan.