Purwokerto, 24 Juni 2026 – Hutan pinus yang terlihat tenang menyimpan nilai ekonomi tinggi di balik kulit batangnya yang kasar. Di wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur, getah pinus menjadi penopang kehidupan bagi para penyadap. Proses pengawalan dari awal sadapan hingga getah terkumpul di gudang resmi menjadi langkah krusial untuk menjaga kualitas dan mencegah kerugian.

Getah pinus mengandung senyawa alfa-pinene dan beta-pinene, bahan baku utama pembuatan gondorukem dan terpentin. Produk turunannya berperan penting dalam berbagai industri, mulai dari kosmetik, cat, hingga bahan pembersih di pasar global. Oleh karena itu, menjaga integritas setiap tetes getah sangat berarti bagi perekonomian lokal.

Aktivitas pengawalan rutin dilaksanakan oleh jajaran pemangku hutan. Pada Selasa (23/06), kegiatan serupa digelar di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karangreja. Fokus utama pengawalan adalah mitigasi pencurian, pemantauan kualitas getah, serta perlindungan bagi pekerja di lapangan yang berhadapan dengan kondisi alam challenging, seperti jarak antar pohon yang jauh dan akses terbatas.

Tantangan nyata di lapangan termasuk praktik "sadapan liar" yang mengarahkan getah ke pihak ketiga atau tengkulak ilegal. Tanpa pengawasan ketat, potensi kehilangan getah dalam jumlah besar sangat mengintai, yang secara langsung akan mengurangi pendapatan para penyadap.

Kualitas getah sangat bergantung pada kebersihan penanganan di lapangan. Getah yang tercampur kotoran akan menurunkan mutu dan harga jualnya. Para penyadap, seperti Sakur dari RPH Karangreja, secara aktif menjaga agar wadah penampung tetap bersih dan terdata dengan rapi. "Kami menjaga kualitas dengan memperhatikan kadar kotoran dan airnya, karena itu berpengaruh pada mutu getah," ujarnya.

Administratur KPH Banyumas Timur, melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Bambang Sutanto, menekankan pentingnya kerja sama dan kehadiran petugas. "Patroli rutin dan komunikasi dengan penyadap menjadi upaya sinergis yang memberikan rasa aman," katanya. Sinergi dengan peran serta masyarakat sekitar hutan juga dinilai vital untuk memberikan informasi atas aktivitas mencurigakan.

Kolaborasi antara petugas pemangku hutan, para penyadap, dan masyarakat ini menjadi fondasi utama dalam pengawalan. Strategi ini tidak hanya mencegah kerugian materiil, tetapi juga menjaga keberlanjutan mata pencaharian berbasis hutan serta mutu komoditas unggulan daerah tersebut.