PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menorehkan capaian gemilang sepanjang semester pertama tahun 2026. Di tengah tantangan likuiditas industri perbankan nasional dan dinamika geopolitik global, bank pelat merah ini berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang signifikan sebesar 24,4 persen secara tahunan (YoY), dengan total penyaluran mencapai Rp968,5 triliun.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa pencapaian positif ini tidak lepas dari keberhasilan strategi transformasi bisnis perseroan. Sejalan dengan arahan transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Danantara Indonesia, BNI fokus pada penguatan pilar bisnis inti, penerapan tata kelola yang transparan, serta diversifikasi portofolio pada sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Selain itu, akselerasi teknologi menjadi katalis utama bagi efisiensi operasional dan penetrasi pasar BNI. Melalui aplikasi wondr by BNI, basis pengguna ritel melonjak hingga mencapai 15,1 juta nasabah dengan lonjakan volume transaksi sebesar 110 persen YoY. Sementara di sektor korporasi, platform BNIdirect mencatat pertumbuhan volume transaksi sebesar 17 persen YoY menjadi Rp6.039 triliun, mempertegas dominasi layanan digital BNI di berbagai segmen nasabah.
Guna mengoptimalkan potensi pasar di daerah, BNI juga sukses mengimplementasikan program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah kerjanya. Inisiatif strategis ini memberikan peran lebih besar bagi kantor cabang untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal, membangun ekosistem bisnis setempat, serta mempercepat akuisisi nasabah baru melalui pendekatan personal yang didukung infrastruktur digital terintegrasi.
Dari sisi kinerja keuangan, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa pendapatan bunga bersih (NII) naik 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Pada periode yang sama, dana murah (CASA) juga tumbuh stabil sebesar 11,2 persen YoY, menjaga rasio CASA pada level 65,4 persen. Pertumbuhan ini berhasil memangkas biaya dana (cost of fund) dana pihak ketiga menjadi 2,56 persen, yang memberikan keleluasaan bagi BNI dalam melakukan intermediasi secara kompetitif.
Keberhasilan mengoptimalkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang tumbuh ke angka Rp9 triliun turut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) menyentuh rekor tertinggi sejarah perseroan untuk semester pertama sebesar Rp18,5 triliun. Dengan realisasi performa tersebut, BNI berhasil membukukan laba bersih pasca-pajak sebesar Rp10,8 triliun pada paruh pertama tahun ini.
Di tengah ekspansi yang berkelanjutan, aspek kehati-hatian tetap menjadi prioritas utama. Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menegaskan komitmen perseroan dalam menjaga kualitas aset secara ketat. Hal ini dibuktikan dengan membaiknya rasio kredit berisiko (loan at risk/LAR) dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga sehat di level 1,9 persen dengan dukungan pencadangan yang konservatif.