Fenomena rabun jauh atau miopia (mata minus) kini semakin marak menyerang anak-anak di Indonesia. Peningkatan kasus ini dipicu tidak hanya oleh tingginya durasi penggunaan gawai (screen time), melainkan juga minimnya aktivitas luar ruangan yang membuat anak kurang mendapatkan paparan sinar matahari alami.
Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), dr. Julie Dewi Barliana, mengungkapkan bahwa tren miopia pada anak melonjak signifikan, terutama sejak masa pandemi. Dalam sebuah forum kesehatan di Jakarta, ia menekankan bahwa tingkat penambahan minus mata pada anak saat ini berlangsung dengan sangat cepat dari tahun ke tahun.
Merujuk pada penelitian yang dimuat dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, paparan sinar matahari luar ruangan selama minimal 10 jam per minggu atau sekitar dua jam per hari mampu menekan risiko mata minus hingga lebih dari 60 persen. Paparan sinar matahari merangsang pelepasan dopamin di dalam tubuh, zat kimia yang berfungsi menghambat pemanjangan sumbu bola mata—faktor utama penyebab miopia.
Selain faktor lingkungan, dr. Julie menyoroti kekurangpekaan sebagian orang tua dalam mendeteksi gejala awal gangguan penglihatan pada anak. Banyak kasus baru disadari ketika kondisi mata minus anak sudah masuk dalam kategori sedang hingga berat. Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk lebih jeli memperhatikan kebiasaan anak sehari-hari di rumah.
Gejala klinis yang patut diwaspadai antara lain kebiasaan membaca atau melihat objek dalam jarak terlalu dekat, sering memicingkan mata, hingga memiringkan kepala saat mencoba memfokuskan pandangan. Jika tanda-tanda tersebut muncul, segera konsultasikan anak ke dokter spesialis mata agar mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini.