PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid pada paruh pertama tahun 2026. BUMN telekomunikasi ini sukses membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh sebesar 3,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Seiring dengan kenaikan pendapatan tersebut, EBITDA perseroan juga terkerek naik 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun dengan margin EBITDA yang stabil di angka 49,4 persen. Sementara itu, laba bersih emiten berkode saham TLKM ini mencapai Rp10,6 triliun. Jika dinamika non-operasional dikesampingkan, laba bersih yang dinormalisasi tercatat tumbuh sebesar 6,2 persen menjadi Rp11,3 triliun.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa hasil positif ini menjadi bukti nyata keberhasilan implementasi strategi transformasi jangka panjang, TLKM 30. Langkah strategis ini dirancang untuk mempercepat digitalisasi sekaligus mengukuhkan posisi Telkom sebagai motor utama ekosistem digital nasional. Efisiensi operasional dan kedisiplinan pengelolaan anggaran turut menyumbang peningkatan arus kas operasional sebesar 7 persen menjadi Rp34,9 triliun.
Sektor bisnis seluler (mobile) melalui Telkomsel tetap menjadi motor pertumbuhan utama pada segmen B2C dengan kontribusi sebesar Rp55,6 triliun. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan konsumsi data dan layanan digital sebesar 11 persen, terutama selama periode libur sekolah dan ajang olahraga internasional. Melalui optimalisasi tarif dan portofolio produk, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) seluler naik 9 persen menjadi Rp45.600.
Pada lini fixed broadband, IndiHome melakukan restrukturisasi basis pelanggan guna meningkatkan kualitas layanan. Meski jumlah pelanggan terkoreksi menjadi 9,5 juta, nilai ARPU berhasil ditingkatkan menjadi Rp211 ribu pada kuartal kedua 2026 dengan tingkat konvergensi layanan (FMC) mencapai 65 persen. Ke depan, Telkomsel bersiap mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan jaringan 5G untuk memperkuat solusi digitalnya.
Di sisi lain, segmen infrastruktur B2B mencatat lompatan pendapatan yang signifikan sebesar 19 persen menjadi Rp33,1 triliun, disokong oleh permintaan layanan data, internet, dan solusi IT. Anak usahanya, Mitratel, menorehkan pendapatan Rp4,7 triliun dengan rasio penyewaan menara (tenancy ratio) yang naik menjadi 1,57 kali. Telkom juga terus melakukan konsolidasi bisnis pusat data (data center) melalui NeutraDC demi memaksimalkan potensi monetisasi aset digital global.
Guna merampingkan struktur korporasi, Telkom telah merealisasikan penyederhanaan terhadap sepuluh entitas bisnis melalui skema merger, divestasi, dan likuidasi, di samping meluncurkan program pensiun dini (ERP). Dengan serapan belanja modal sebesar Rp10,8 triliun yang difokuskan pada infrastruktur prioritas, perseroan berkomitmen memperkuat fondasi digital Indonesia demi mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.