Nyeri hebat pada area pinggang yang terasa menusuk dan tidak kunjung mereda meskipun telah berganti posisi patut diwaspadai. Gejala ini sering kali menjadi penanda klinis adanya batu saluran kemih, sebuah penyakit yang kini kian marak menyerang kelompok usia produktif. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk mendeteksi dini gangguan ini masih tergolong rendah.

Terbentuknya batu saluran kemih dipicu oleh pengendapan sisa metabolisme tubuh akibat kurangnya asupan cairan. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan turut memperburuk kondisi ini. Faktor geografis Indonesia yang beriklim tropis juga mempertinggi risiko dehidrasi, sehingga kristal urine lebih cepat mengendap dan mengeras menjadi batu.

Menurut dr. Boyke Budiman Sumantri, Sp.U, Ketua Urologi dan Nefrologi Clinic Bethsaida Hospital, penanganan yang terlambat berisiko menyumbat aliran urine, memicu infeksi, hingga menyebabkan pembengkakan ginjal atau hidronefrosis. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengakibatkan gagal ginjal permanen.

Guna mengatasi masalah ini, penanganan medis kini disesuaikan dengan ukuran, lokasi batu, serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Berbagai metode mutakhir seperti Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS), hingga pemanfaatan teknologi Laser Magneto dapat meminimalkan risiko tindakan dan meningkatkan presisi selama prosedur berlangsung.

Selain batu saluran kemih, kaum pria paruh baya juga rentan mengalami pembesaran prostat jinak (BPH). Kondisi ini menyebabkan terhambatnya aliran urine, yang ditandai dengan gejala sulit buang air kecil serta sensasi kandung kemih yang tidak kosong sepenuhnya.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH, FINASIM, menekankan pentingnya deteksi dini, khususnya bagi penderita hipertensi dan diabetes. Pemeriksaan berkala sangat krusial mengingat penyakit ginjal sering kali berkembang tanpa gejala khas sebelum akhirnya mencapai stadium kronis.