Uni Eropa dan India secara resmi sepakat untuk mempererat kemitraan strategis mereka di bidang perdagangan dan teknologi. Langkah signifikan ini diambil sebagai bagian dari upaya Brussel untuk mendiversifikasi rantai pasok global sekaligus menekan ketergantungan ekonomi terhadap China. Dengan kesepakatan ini, India kini menempati posisi khusus sebagai negara kedua setelah Amerika Serikat yang menjalin hubungan formal tingkat tinggi dengan Uni Eropa di sektor tersebut.
Penguatan kerja sama ini dimatangkan dalam pertemuan ketiga Dewan Perdagangan dan Teknologi Uni Eropa-India yang berlangsung di Brussel. Pertemuan penting tersebut dihadiri oleh jajaran menteri luar negeri, perdagangan, serta teknologi informasi dari kedua belah pihak. Kehadiran para pejabat tinggi ini menegaskan komitmen kuat dari kedua kawasan untuk merealisasikan rencana strategis yang telah diinisiasi sejak tahun 2022 lalu oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Kolaborasi baru ini mencakup berbagai program inovasi mutakhir, mulai dari partisipasi India dalam program riset Horizon Europe, hingga pengembangan pusat teknologi pengisian daya kendaraan listrik secara bersama. Selain itu, kedua belah pihak sepakat untuk membangun aliansi bagi perusahaan rintisan (startup) teknologi tinggi serta memperkuat riset bersama pada sektor krusial seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), superkomputer, teknologi kuantum, dan jaringan telekomunikasi generasi keenam (6G).
Tidak hanya berfokus pada teknologi digital dan manufaktur canggih, aliansi strategis ini juga dirancang untuk mengamankan ketahanan logistik global. Brussels dan New Delhi berkomitmen meningkatkan koordinasi guna mengantisipasi kerentanan rantai pasokan di sektor farmasi, pangan, dan energi, guna menciptakan stabilitas ekonomi jangka panjang bagi kedua wilayah.