Pemerintah China dilaporkan berhasil mengembangkan inovasi teknologi mutakhir untuk mendeteksi impuritas pada logam tanah jarang (rare earth) berkadar kemurnian tinggi. Menggunakan metode inductively coupled plasma tandem mass spectrometry (ICP-MS/MS), teknologi ini diklaim mampu mengukur kandungan pengotor secara langsung tanpa perlu melalui proses pemisahan matriks yang rumit.

Terobosan ini dikembangkan oleh Laboratorium Kunci Pengujian dan Penelusuran Produk Tanah Jarang yang berada di bawah naungan Universitas Sains dan Teknologi Jiangxi, Provinsi Jiangxi. Kehadiran metode baru ini menjawab keterbatasan sistem konvensional yang kerap membutuhkan waktu pengujian lebih lama serta memiliki batas deteksi yang relatif tinggi akibat gangguan matriks.

Pengaplikasian teknologi ICP-MS/MS ini menawarkan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi dan waktu pengujian yang lebih singkat. Berkat kemampuan deteksi yang presisi ini, para produsen logam tanah jarang di China kini dapat melakukan pengendalian kualitas produk secara langsung selama proses produksi, sehingga mampu meningkatkan efisiensi operasional dan standar kemurnian material.

Wu Chenhui, seorang analis mineral kritis independen, menjelaskan bahwa teknologi ini menjadi tonggak penting dalam upaya China meningkatkan nilai tambah industri hilirnya. Penerapan metode ini diyakini bakal memperkuat posisi tawar dan daya saing produk logam tanah jarang asal Negeri Tirai Bambu tersebut di pasar internasional, sekaligus mengukuhkan dominasinya dalam rantai pasok global.

Logam tanah jarang sendiri sering dijuluki sebagai "emas industri" karena perannya yang sangat vital dan sulit digantikan dalam berbagai industri manufaktur teknologi tinggi. Di sisi lain, data Bea Cukai China mencatatkan dinamika perdagangan komoditas ini, dengan volume ekspor sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 34.706,3 ton, atau mengalami penurunan sebesar 10 persen secara tahunan.