Integrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini merambah hingga ke sektor industri kreatif, termasuk dunia fesyen. Dua perancang busana kenamaan Tanah Air, Rinaldy Yunardi dan Hian Tjen, angkat bicara mengenai sejauh mana teknologi ini dapat berkolaborasi dengan proses kreatif mereka.

Rinaldy Yunardi, desainer aksesori yang karyanya telah diakui hingga panggung internasional, menyatakan sikap terbukanya terhadap AI sepanjang dimanfaatkan untuk tujuan yang konstruktif. Baginya, AI dapat menjadi instrumen pendukung dalam fase riset dan pengembangan ide. Meski demikian, ia menegaskan batas etis dalam berkarya dengan menyatakan keengganannya menggunakan AI jika hasil akhirnya kehilangan nilai otentik atau terkesan artifisial.

Bagi Rinaldy, proses kreatif yang lahir dari kedalaman hati memiliki nilai kejujuran yang tidak dapat diproduksi oleh algoritma. Ia memilih untuk tetap mempertahankan metode konvensional dalam menciptakan karya, meskipun di tengah gempuran teknologi. Baginya, imajinasi manusia yang orisinal jauh melampaui apa yang mampu disimulasikan oleh mesin.

Senada dengan Rinaldy, desainer Hian Tjen memandang bahwa AI memiliki keterbatasan fundamental dalam hal teknis pembuatan busana. Menurutnya, kemampuan untuk memvisualisasikan alur kain, struktur gaun, dan proporsi nyata adalah keahlian yang memerlukan pengalaman panjang serta insting desain yang kuat—sesuatu yang belum mampu ditiru secara presisi oleh AI.

Hian Tjen sering kali menemui klien yang membawa referensi desain berbasis AI, namun ia menegaskan bahwa realitas konstruksi pakaian sangat berbeda dengan sekadar gambar digital. Pengalaman praktis dalam menjahit dan merancang pola menjadi penentu apakah sebuah ide dapat diwujudkan atau tidak. Bagi Hian, karya yang lahir langsung dari tangan dan pemikiran desainer memiliki daya jual serta keunggulan emosional yang jauh lebih tinggi dibandingkan hasil olahan teknologi.