Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah pihak berwenang Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Mohammad Bagher Zolghadr, kepala badan keamanan tertinggi Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap setiap agresi yang menyasar infrastruktur strategis negara tersebut.

Pernyataan ini muncul menyusul eskalasi militer yang signifikan sepanjang pekan ini, mengancam stabilitas nota kesepahaman gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati pada 17 Juni lalu. Pihak Teheran menuduh militer Amerika Serikat sengaja menyasar fasilitas sipil, termasuk jaringan jembatan dan rel kereta api yang menghubungkan Teheran dengan kota Mashhad, lokasi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Data dari otoritas Iran melaporkan setidaknya 17 orang kehilangan nyawa dalam rangkaian serangan udara AS yang diklaim menyasar 90 situs militer tersebut. Selain itu, laporan media pemerintah Iran menyebutkan adanya aktivitas serangan gabungan AS-Israel di dekat Bushehr, kawasan yang menjadi titik vital pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iran.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat mengenai langkah-langkah strategis terbaru di wilayah Teluk. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menyatakan kesiapan pihaknya untuk melancarkan operasi militer yang lebih intensif jika situasi terus memburuk, menandai fase baru yang kian berbahaya dalam konflik berkepanjangan ini.