Perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx), mencetak sejarah baru sebagai produsen pertama di Indonesia yang berhasil memproduksi sekaligus menerapkan teknologi nano untuk mengatasi berbagai penyakit mematikan pada udang. Langkah inovatif ini dirancang khusus untuk menanggulangi penyakit endemik seperti EHP (Enterocytozoon hepatopenaei), AHPND, WSSV (White Spot Syndrome Virus), hingga WFD (White Feces Disease).

FisTx menghadirkan solusi perlindungan berlapis melalui dua produk unggulan, yakni Nano Silver dan Nano Disinfektan (nano copper). Nano Silver dicampurkan ke dalam pakan untuk memproteksi udang dari dalam tubuh, sedangkan Nano Disinfektan ditebar langsung ke air kolam untuk sterilisasi lingkungan. Melalui pengujian Transmission Electron Microscope (TEM) di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), partikel aktif ini terbukti konsisten berukuran sangat mikro, berkisar antara 4 hingga 7 nanometer.

Rico Wisnu Wibisono, Founder sekaligus CEO FisTx, menjelaskan bahwa teknologi nano memiliki keunggulan mutlak dibandingkan antibiotik atau disinfektan konvensional yang berisiko meninggalkan residu berbahaya dan memicu resistensi bakteri. Partikel nano bekerja dengan cara menembus langsung dinding sel patogen, merusak DNA, serta melumpuhkan sistem energinya. Dengan metode serangan multi-titik ini, virus maupun spora bakteri tidak memiliki kesempatan untuk membangun kekebalan.

Keandalan teknologi ini telah teruji di lapangan. Di tambak komersial Pasuruan dan dalam kemitraan bersama PT MEN, aplikasi produk ini terbukti mampu mengendalikan populasi bakteri Vibrio merugikan di bawah batas aman, bahkan menurunkan kadar Vibrio Green patogenik dari 38.700 CFU/ml hingga steril dalam waktu sepuluh hari. Dari aspek keselamatan, uji LD-50 membuktikan produk ini memiliki batas aman hingga 710 kali lipat dari dosis operasional, menjadikannya sangat ramah bagi ekosistem tambak.

Selain efektif secara biologis, inovasi ini juga membawa angin segar bagi efisiensi finansial para petambak. Penggunaan Nano Disinfektan mampu menghemat pengeluaran sterilisasi air hingga lebih dari 87 persen jika dibandingkan dengan kaporit. Manfaat nyata ini diakui oleh para petambak di berbagai daerah, seperti di Kulon Progo yang berhasil memulihkan kondisi kolam pasca-serangan penyakit hingga sukses panen dengan bobot total 9,5 ton, serta petambak di Pangandaran yang sukses menjaga Survival Rate (SR) udang di atas 85 persen selama empat siklus berturut-turut.

Kini, FisTx yang telah merangkul lebih dari 1.500 petambak di 25 provinsi tengah bersiap memperluas jangkauan pasarnya ke ranah internasional, termasuk Pakistan dan wilayah Timur Tengah. Dengan rata-rata peningkatan keberhasilan budidaya hingga 83,6 persen, inovasi karya anak bangsa ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mandiri dalam memproduksi teknologi akuakultur berstandar global.