Pola makan ala Barat yang kaya akan lemak dan daging merah, namun miskin serat, telah lama diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama kanker kolorektal atau kanker usus besar. Baru-baru ini, sebuah penelitian internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Jerman berhasil mengungkap mekanisme biologis di balik fenomena tersebut, yang melibatkan aktivitas mikroorganisme di dalam saluran pencernaan manusia.
Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Gut tersebut menyoroti asam deoksikolat (deoxycholic acid/DCA), sebuah senyawa asam empedu sekunder. Senyawa ini terbentuk ketika bakteri usus tertentu memproses asam empedu primer yang diproduksi oleh hati untuk mencerna lemak. Keberadaan bakteri penghasil DCA ini didapati melonjak signifikan akibat konsumsi makanan tinggi lemak secara terus-menerus.
Guna menguji hipotesis tersebut, tim peneliti melakukan eksperimen multi-metode yang melibatkan babi yang dimodifikasi secara genetik, tikus laboratorium, hingga miniatur jaringan usus besar manusia (organoid) di laboratorium. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak pada hewan uji memicu lonjakan kadar DCA dan mempercepat pembelahan sel-sel abnormal di dinding usus yang berpotensi menjadi tumor.
Keakuratan temuan ini kemudian diverifikasi melalui analisis data mikrobioma dari ribuan sampel feses manusia. Peneliti membandingkan data dari 1.034 pasien kanker kolorektal dengan 1.108 individu sehat. Hasilnya, gen bakteri yang terlibat dalam produksi DCA, seperti Clostridium scindens, ditemukan jauh lebih melimpah pada kelompok pasien penderita kanker dibandingkan mereka yang sehat.
Menariknya, pemberian obat pengikat asam empedu seperti cholestyramine pada hewan uji terbukti mampu menekan pembelahan sel abnormal di usus besar. Kendati demikian, Dr. Sören Ocvirk dari German Institute of Human Nutrition mengingatkan bahwa temuan pada manusia masih bersifat observasional dan membutuhkan uji klinis lebih lanjut sebelum metode pengikat asam empedu dapat diterapkan sebagai terapi pencegahan kanker.
Penelitian ini memberikan penjelasan ilmiah yang kuat mengenai bahaya gaya hidup tidak sehat terhadap ekosistem pencernaan. Sembari menunggu pengembangan terapi berbasis mikrobioma, para ahli tetap menyarankan masyarakat untuk konsisten menerapkan pola makan kaya serat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian, serta membatasi konsumsi daging merah olahan demi menjaga kesehatan usus.