Pertemuan bersejarah terjadi di Damaskus dengan digelarnya Forum Bisnis Suriah-Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya. Forum ini mempertemukan para pejabat tinggi, investor, dan pelaku usaha dari kedua negara guna menjajaki peluang investasi di sektor energi serta mendukung proyek rekonstruksi di Suriah.
Momentum penting ini terlaksana seiring langkah politik Washington yang mulai memulihkan hubungan bilateral. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengajukan pencabutan status Suriah sebagai negara pendukung terorisme kepada Kongres, yang kini tengah memasuki masa peninjauan selama 45 hari sebelum disahkan secara resmi.
Ketua Dewan Bisnis Suriah-Amerika, Issam Ghreiwati, menilai forum ini sebagai tonggak sejarah baru bagi perekonomian kedua negara. Menurutnya, inisiatif ini mencerminkan kembalinya kepercayaan pasar internasional terhadap stabilitas ekonomi Suriah, sekaligus membuka keran investasi bagi sektor swasta.
Senada dengan hal itu, Menteri Ekonomi dan Industri Suriah, Nidal Al-Shaar, menyatakan bahwa pelonggaran kebijakan dari pihak AS telah mengeliminasi hambatan utama dalam aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan global. Hal ini dinilai mempermudah integrasi kembali perbankan Suriah ke dalam sistem keuangan dunia.
Di sektor migas, Direktur Utama Syrian Petroleum Company, Yousef Qablawi, mengungkapkan kesiapan pemerintah dalam menarik minat pemodal asing. Beberapa kesepakatan awal dengan korporasi global kini telah ditingkatkan menjadi kontrak investasi nyata, dengan fokus utama pada eksplorasi minyak dan gas di wilayah lepas pantai.
Kehadiran korporasi asal AS juga mulai terlihat nyata. Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS, Jacob McGee, mengonfirmasi bahwa sejumlah perusahaan asal negaranya tengah aktif menganalisis potensi investasi di Suriah. Langkah ini didukung oleh regulasi pelonggaran sanksi sebelumnya, seperti penerbitan Syria General License 25, guna mempercepat pemulihan ekonomi pascakonflik.