Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memelopori pembuatan teknologi desalinasi air laut buatan dalam negeri. Langkah strategis ini diambil guna mengatasi krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

Perintah tersebut disampaikan Kepala Negara dalam rapat koordinasi penanganan dampak gempa bumi yang digelar di posko pengungsian Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo. Instruksi ini merespons laporan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengenai sulitnya akses air minum bagi warga kepulauan terpencil pascabencana.

Dalam arahannya, Presiden menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. BRIN diminta bersinergi dengan Universitas Pertahanan (Unhan), TNI, serta jajaran fakultas teknik dari berbagai universitas untuk merancang sistem penyaringan air laut yang mandiri dan aplikatif, sehingga dapat segera didistribusikan ke daerah-daerah krisis.

Presiden Prabowo menilai perkembangan sains saat ini telah membuat teknologi desalinasi jauh lebih ekonomis dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika dahulu teknologi ini hanya mampu diakses oleh negara-negara kaya, kini sistem pengolahan air asin menjadi air layak konsumsi sudah sangat memungkinkan untuk diterapkan hingga ke tingkat desa secara massal.

Lebih lanjut, pemulihan pascabencana di NTT diarahkan tidak hanya pada rekonstruksi fisik, melainkan juga pembangunan kawasan yang lebih tangguh dan produktif. Presiden juga mewacanakan optimalisasi lahan perbukitan nonproduktif di NTT untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar guna menyokong sektor ekonomi dan perikanan daerah setempat.