Provinsi Papua Tengah secara resmi memulai langkah strategis dalam upaya konservasi lingkungan jangka panjang melalui program 'Go Green Papua Tengah 2045'. Inisiatif ini menargetkan penanaman 30 juta pohon dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, yang bertujuan untuk merehabilitasi lahan kritis sekaligus menjaga stabilitas ekosistem di wilayah tersebut.

Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, Yayasan Teknologi Hijau Papua menjalin kemitraan strategis dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembenihan Tanaman Hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Kemitraan ini berfokus pada penyediaan bibit unggul bersertifikat yang memiliki ketahanan tinggi, sebagai modal utama keberhasilan rehabilitasi hutan di wilayah Papua.

Kabupaten Paniai telah ditetapkan sebagai kawasan percontohan (pilot project) untuk fase awal. Setelah menunjukkan hasil yang progresif, skema serupa akan diterapkan secara bertahap di tujuh kabupaten lainnya, yakni Nabire, Dogiyai, Deiyai, Mimika, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya.

Ketua Yayasan Teknologi Hijau Papua, Otopianus P. Tebai, menekankan bahwa pemilihan mitra dari Jawa Timur didasarkan pada rekam jejak mereka yang teruji dalam pengelolaan bibit berkualitas. Selain pasokan bibit, kerja sama ini juga mencakup pendampingan teknis terkait penyesuaian agroklimat. Tanaman jenis Pinus merkusii menjadi prioritas awal karena adaptabilitasnya yang mumpuni terhadap topografi lokal.

Lebih lanjut, Kepala UPT Pembenihan Tanaman Hutan Jawa Timur, Didik Triswantara, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Menurutnya, kolaborasi lintas daerah ini merupakan kontribusi konkret bagi Indonesia untuk mencapai target Indonesia's FOLU Net Sink 2030 serta mempercepat realisasi Net Zero Emission (NZE) nasional, sekaligus memastikan hutan Papua tetap menjalankan fungsinya sebagai paru-paru dunia.