Unggahan di media sosial belakangan ini dihangatkan oleh diskusi mengenai olahraga lari, khususnya maraton, yang dituding dapat memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah jantung. Kabar ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pencinta olahraga lari dan masyarakat umum.

Menanggapi fenomena tersebut, praktisi kesehatan sekaligus kreator konten edukasi medis, dr. Adam Prabata, memberikan klarifikasi ilmiah. Ia membenarkan adanya sejumlah penelitian yang menunjukkan korelasi antara olahraga ketahanan ekstrem (endurance) dengan peningkatan volume plak di pembuluh darah. Namun, temuan ini tidak boleh ditafsirkan secara mentah-mentah sebagai peningkatan risiko serangan jantung.

Secara medis, plak terbentuk dari akumulasi kolesterol dan zat sisa lain yang menempel pada dinding pembuluh darah. Seiring berjalannya waktu, penumpukan ini dapat mempersempit diameter pembuluh darah, yang kemudian menghambat distribusi oksigen serta nutrisi penting ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otot jantung.

Meskipun penumpukan plak memang menjadi salah satu faktor pemicu serangan jantung, dr. Adam menekankan pentingnya membaca hasil kajian ilmiah secara komprehensif. Pemahaman yang setengah-setengah justru berpotensi memicu ketakutan yang tidak perlu terhadap aktivitas fisik yang sebenarnya bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular secara umum.