Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memperkuat komitmennya dalam menghapus kesenjangan digital di wilayah perbatasan. Melalui kolaborasi erat dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah daerah bersiap mengintegrasikan teknologi satelit mutakhir dan mengoptimalkan frekuensi 700 MHz untuk memperluas akses internet hingga ke pulau-pulau terluar.

Langkah taktis ini dimatangkan dalam audiensi antara Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura dan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Komdigi Wayan Toni Supriyanto di Jakarta. Pertemuan tersebut memfokuskan pembahasan pada percepatan pembangunan infrastruktur digital guna memacu pertumbuhan investasi serta pemerataan pelayanan publik di daerah kepulauan.

Sebagai langkah konkret, pemerintah telah memetakan enam lokasi prioritas pembangunan Base Transceiver Station (BTS) baru yang tersebar di Kabupaten Natuna, Lingga, dan Karimun. Proyek penyediaan jaringan ini akan melibatkan operator seluler besar seperti Telkomsel, XL, dan Indosat Ooredoo Hutchison, dengan memanfaatkan keunggulan efisiensi daya jangkau dari frekuensi 700 MHz yang dinilai sangat cocok untuk wilayah kepulauan.

Kerja sama strategis ini ditargetkan mampu menuntaskan masalah konektivitas pada 207 titik sinyal yang bermasalah di Kepri, mencakup 30 area tanpa sinyal sama sekali (blank spot) dan 177 area bersinyal lemah. Selain pemanfaatan frekuensi seluler, optimalisasi Satelit Republik Indonesia (SATRIA) dan jaringan tulang punggung Palapa Ring disiapkan sebagai solusi alternatif untuk wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura menekankan bahwa ketersediaan jaringan internet yang stabil di perbatasan merupakan instrumen penting kedaulatan negara sekaligus pendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Keberadaan konektivitas digital yang mumpuni sangat dinantikan untuk mendukung efektivitas program pendidikan di Sekolah Rakyat, kelancaran program sosial seperti Makan Bergizi Gratis, serta membantu produktivitas ekonomi bagi sekitar 78.000 nelayan setempat tanpa terkendala jarak.