Pembangunan Polder Tanjung Laut di Kota Bontang menuai keluhan dari warga sekitar. Debu tebal yang dihasilkan dari aktivitas proyek infrastruktur tersebut dinilai sangat mengganggu kenyamanan dan memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Rahman, salah seorang warga RT 09 Kelurahan Tanjung Laut, mengungkapkan bahwa pihak pelaksana proyek sudah berbulan-bulan tidak melakukan penyiraman jalan secara rutin. Akibatnya, abu tanah terus berhamburan hingga masuk ke dalam rumah warga. Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena di sekitar lokasi proyek terdapat lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang rentan terhadap polusi udara.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (DPUPR) Bontang, Edi Suprapto, menyatakan bahwa pihaknya telah mulai menginstruksikan penyiraman. Meski beberapa titik mulai ditangani, ia mengakui area di belakang kantor pajak belum tersentuh dan berjanji akan segera menindaklanjutinya.

Proyek pengendalian banjir bernilai Rp3,8 miliar ini dibiayai melalui dana Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi Kalimantan Timur. Saat ini, progres fisik polder baru mencapai kisaran lima persen. Polder ini dirancang memiliki luas sekitar 7.000 meter persegi dengan kapasitas tampung air mencapai 38.000 meter kubik demi mengatasi genangan air di kawasan Tanjung Laut.

Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mendesak agar aliran air dari titik rawan banjir seperti kawasan Era Fresh dapat terintegrasi dengan baik ke polder ini. Terkait masalah debu, DPRD telah meminta komitmen dari kontraktor pelaksana untuk melakukan penyiraman berkala demi menjaga kondusivitas dan kesehatan warga setempat.