Safari politik mantan Presiden Joko Widodo ke Lampung baru-baru ini menyita perhatian publik nasional. Bukan sekadar kunjungan biasa, momen saat Jokowi menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" dari Kedatun Keagungan Lampung justru menjadi sorotan utama, terutama terkait prosesi menginjak kepala kerbau yang telah disembelih sebagai bagian dari ritual adat setempat.
Secara tradisional, prosesi tersebut merupakan simbol luhur untuk menanggalkan sifat buruk dan ego. Namun, dalam kacamata komunikasi politik, tindakan tersebut memicu tafsir liar. Banyak pihak menghubungkan anatomi kepala kerbau dengan simbol banteng milik PDI Perjuangan, yang kemudian memicu spekulasi mengenai pesan politik tersembunyi di balik tindakan simbolis tersebut.
Jika dibedah melalui pisau analisis semiotika, terdapat pertarungan antara makna denotatif dan konotatif. Secara denotatif, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan pengukuhan status sosial. Namun, di ranah konotatif, dinamika hubungan politik Jokowi dengan PDI Perjuangan membuat masyarakat melihatnya sebagai bentuk dominasi atau sindiran terbuka melalui mekanisme cognitive heuristic.
Fenomena ini menegaskan teori Murray Edelman mengenai The Symbolic Uses of Politics, di mana setiap gerak-gerik tokoh publik menjadi parade simbol yang ditafsirkan sesuai konteks dan kepentingan audiens. Jokowi, dengan magnet politik yang masih kuat, dipandang memanfaatkan kekuatan komunikasi non-verbal yang strategis. Ia mendapatkan "ruang aman" dengan berlindung di balik argumen pelestarian budaya, sementara pesan laten tetap tersampaikan secara efektif.
Di sisi lain, peristiwa ini menyoroti kerentanan nilai-nilai adat yang kerap terpinggirkan ketika dibenturkan dengan kepentingan politik praktis. Kehadiran Jokowi di Lampung menjadi penanda eksplisit bahwa ia telah kembali aktif di panggung politik nasional, menjadikan setiap langkahnya sebagai bagian dari agenda strategis yang tidak lagi bisa dibaca sebagai ruang hampa.