Sutradara Sidharta Tata kembali menunjukkan taringnya di kancah perfilman dunia. Setelah sukses dengan "Waktu Maghrib", ia kini tengah menyiapkan proyek horor ambisius bertajuk "Slaughterground" (Hujan Kematian) yang telah berhasil menarik perhatian industri film internasional meski masih dalam tahap pengembangan.
Film ini mengusung genre survival horor supranatural yang berlatar belakang Indonesia pada tahun 1966. Cerita berfokus pada perjuangan seorang ibu dan anak tirinya yang harus bertahan hidup di wilayah terkutuk, di mana hujan tidak menurunkan air, melainkan kawanan belalang mematikan. Premis unik yang diadaptasi dari komik populer "Locust" karya Iskandar Salim ini menawarkan ketegangan yang belum pernah dieksplorasi secara luas dalam perfilman lokal.
Proyek ini mencatatkan prestasi gemilang di ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF) 2026, yang merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan. "Slaughterground" berhasil terpilih menjadi salah satu dari 12 proyek terbaik dari total 258 proposal yang masuk dari 47 negara. Keunggulan premisnya membawa film ini memenangkan tiga penghargaan bergengsi, yakni Abnormal Studios VFX Award, Mocha Chai Laboratories Post Production Award, dan Hive Filmworks Inc. Cash Award.
Dukungan internasional tersebut menjadi modal penting bagi tim produksi yang terdiri dari Aftersun Creative, Nuon Film, Kosmik, Kebon Studio, dan Spasi Moving Image. Penghargaan ini akan dialokasikan untuk memperkuat kualitas efek visual dan pascaproduksi, sekaligus menjadi magnet bagi calon investor serta mitra distribusi global.
Melihat rekam jejak Sidharta Tata yang konsisten menembus pasar internasional, "Slaughterground" kini diproyeksikan sebagai salah satu film horor paling dinanti. Tim produksi berkomitmen untuk menjaga standar kreatif tinggi agar kisah lokal ini mampu memberikan dampak global saat dirilis di masa depan.