Dunia kuliner Indonesia belakangan ini diwarnai dengan kabar penutupan sejumlah gerai milik para figur publik. Langkah strategis untuk menghentikan operasional ini diambil oleh berbagai kalangan, mulai dari selebritas layar kaca hingga influencer media sosial papan atas, meski sebelumnya usaha tersebut sempat menuai atensi publik yang masif.
Salah satu kabar terbaru datang dari Ussy Sulistiawaty yang memutuskan menutup restoran Nasi Bejeg Wijaya miliknya di Jakarta Selatan. Meski dijalankan dengan dedikasi tinggi, Ussy mengakui keputusan berat tersebut harus diambil. Fenomena serupa juga menimpa Jesselyn Lauwreen, pemenang MasterChef Indonesia Season 8, yang menutup restoran Sanuk Thai Noodle setelah beroperasi selama kurang lebih satu tahun.
Jejak langkah di industri kuliner yang tidak selalu mulus juga dirasakan oleh selebgram kenamaan. Tasya Farasya, yang sempat merambah dunia restoran mewah melalui Golden Black Gourmet, harus merelakan unit usahanya berhenti beroperasi. Hal serupa dialami oleh Rachel Vennya dengan bisnis seperti Rumah Sedep dan Ngikan, serta Fadil Jaidi yang memutuskan menutup Waroeng Pak Muh dan Traffic Bun, padahal gerai tersebut sempat mencatatkan antrean panjang di masa kejayaannya.
Tutupnya berbagai gerai ini menjadi refleksi nyata bahwa popularitas seorang figur publik bukanlah jaminan mutlak bagi kelangsungan bisnis kuliner dalam jangka panjang. Persaingan yang sangat ketat, perubahan tren pasar, serta tantangan operasional harian menuntut pengelolaan yang sangat matang agar bisnis tetap relevan dan berkelanjutan di mata konsumen.