Keputusan lembaga pemeringkat kredit internasional, S&P Global Ratings, yang mempertahankan prospek stabil atas peringkat utang Indonesia membawa angin segar bagi pasar modal dalam negeri. Merespons sentimen positif ini, BRI Danareksa Sekuritas optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menembus level 7.200 pada akhir tahun 2026.

Dua analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi, menilai bahwa valuasi IHSG saat ini, yang tercatat pada rasio price-to-earnings (P/E) 9,1 kali, terlampau rendah. Menurut mereka, valuasi tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar yang berlebihan mengenai potensi penurunan peringkat utang serta asumsi pertumbuhan laba yang negatif untuk periode mendatang.

Dengan meredanya risiko kredit negara dalam jangka pendek, para analis melihat adanya peluang besar bagi pemodal untuk meningkatkan porsi investasi pada saham-saham berkinerja agresif atau berbeta tinggi. Langkah ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8 persen pada tahun 2027 dengan target P/E yang realistis sebesar 10 kali.

Dalam skenario ini, sektor-sektor unggulan seperti perbankan, telekomunikasi, logam, dan batu bara tetap mendapatkan rekomendasi alokasi di atas bobot acuan (overweight). Beberapa emiten besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), hingga PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) kini masuk dalam radar pantauan utama karena dinilai memiliki daya tarik investasi yang kuat di tengah pemulihan pasar.