Harga emas dunia kembali mengalami tekanan berat di pasar global. Hingga penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), logam mulia ini mencatatkan pelemahan sebesar 0,72% ke level US$ 4.076,32 per troy ons. Penurunan ini menandai tren negatif selama tiga hari beruntun dengan akumulasi koreksi harga mencapai 2,4%.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, menjelaskan bahwa sentimen utama yang memicu pelemahan ini adalah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi geopolitik yang memanas pasca-klaim serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait memicu lonjakan harga minyak mentah hingga lebih dari 5%. Kondisi ini secara tidak langsung menekan daya tarik emas di mata investor.
Di sisi lain, kenaikan harga energi memicu kekhawatiran baru mengenai potensi inflasi yang lebih tinggi. Situasi ini mendorong para pejabat Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Data terbaru dari CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang meningkat signifikan menjadi 69%.
Kondisi pasar yang cenderung 'hawkish' ini membuat Bank of America melakukan penyesuaian proyeksi. Bank tersebut memangkas target harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per troy ons. Meskipun demikian, para analis masih memproyeksikan potensi pemulihan harga hingga ke level US$ 5.000 per troy ons jika siklus pengetatan moneter di Amerika Serikat berakhir.
Sejalan dengan emas, komoditas perak juga mengalami tekanan jual yang cukup tajam. Harga perak tercatat anjlok sebesar 2,86% pada perdagangan Rabu, memperpanjang tren koreksi yang mencapai 6,6% dalam tiga hari terakhir. Hingga Kamis pagi, pergerakan harga emas dan perak terpantau masih sangat fluktuatif merespons dinamika geopolitik global.