PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menghadirkan terobosan inovatif dengan mengoptimalkan energi panas bumi untuk mendongkrak produktivitas dan mutu kopi Arabika di kawasan Kamojang, Jawa Barat. Perusahaan pelat merah ini mengembangkan fasilitas bernama Geothermal Dry House, sebuah teknologi pengeringan berbasis uap panas bumi yang dirancang khusus untuk membantu petani kopi mempercepat proses pascapanen secara signifikan.
Kawasan Kamojang yang terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi Arabika unggulan. Dalam inovasi ini, PGEO memanfaatkan steam trap dari aktivitas operasional panas bumi sebagai sumber energi panas alternatif pengganti penjemuran konvensional. Hasilnya, proses pengeringan biji kopi berlangsung jauh lebih higienis dengan tingkat kematangan yang lebih merata dan konsisten.
Dampak paling mencolok dari penerapan teknologi ini terlihat dari efisiensi waktu yang luar biasa. Jika sebelumnya petani memerlukan waktu 30 hingga 45 hari untuk mengeringkan biji kopi secara alami, kini prosesnya cukup memakan waktu 3 hingga 10 hari saja. Perusahaan mencatat lonjakan efisiensi mencapai 300 persen, yang memungkinkan para petani meningkatkan kapasitas produksi, menekan ongkos operasional, sekaligus menjaga mutu biji kopi agar tetap bernilai jual tinggi.
Saat ini, program pemanfaatan Geothermal Dry House telah menggandeng tiga kelompok tani setempat, yaitu Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi. Sebanyak 320 keluarga petani kopi yang bermukim di sekitar Kamojang turut terlibat sebagai mitra aktif dalam pemanfaatan teknologi ramah lingkungan tersebut.
Peningkatan kualitas hasil pascapanen juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk kopi asal Kamojang. Manajemen PGEO mengungkapkan bahwa kopi dari kawasan ini telah berhasil diekspor sebanyak 20 ton ke berbagai negara di benua Asia dan Eropa, membuktikan bahwa pemanfaatan energi panas bumi mampu mendorong daya saing komoditas lokal di kancah internasional.
Sekretaris Perusahaan PGEO, Muhammad Taufik, menegaskan bahwa pemanfaatan langsung energi panas bumi tidak semata-mata ditujukan untuk pembangkitan listrik. "Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," tutur Taufik dalam keterangan resmi yang dirilis pada Minggu (28/6/2026).
Selain sektor perkopian, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat terintegrasi melalui inisiatif bertajuk Kanyaah, singkatan dari Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal. Program tersebut mencakup pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung sektor perikanan, pertanian, pengolahan hasil panen, hingga produksi pupuk organik.
Kamojang sendiri menyandang predikat sebagai wilayah panas bumi pertama di Indonesia yang mulai dieksplorasi sejak tahun 1926. Kini, Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang dioperasikan oleh PGEO dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang memiliki kapasitas terpasang total sebesar 235 megawatt.
Di luar lini bisnis ketenagalistrikan, pengembangan pemanfaatan langsung energi geotermal melalui sektor pertanian menjadi strategi PGEO untuk menciptakan nilai tambah bagi komunitas di sekitar wilayah operasinya. Keberhasilan teknologi pengeringan kopi berbasis panas bumi ini diharapkan dapat menjadi model yang diterapkan di kawasan geotermal lainnya, sekaligus memperkuat ekosistem bisnis kopi Kamojang secara berkelanjutan.