Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jakarta menekankan urgensi deteksi dini terhadap kondisi pre-miopia pada anak. Fase ini dinilai sebagai momentum paling krusial untuk memberikan intervensi medis sebelum kondisi refraksi mata berkembang menjadi miopia atau rabun jauh yang lebih parah.
Ketua Perdami Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan dalam acara 'Meet The Expert 2026' bahwa saat ini tren kemunculan miopia telah bergeser ke usia yang lebih dini, yakni di bawah tujuh tahun. Menurutnya, semakin cepat miopia terdeteksi, maka laju perkembangannya akan semakin progresif jika tidak segera ditangani.
Pakar kesehatan mata tersebut memperingatkan bahwa tanpa langkah pencegahan yang tepat, miopia berisiko meningkat menjadi *high myopia* hingga *pathologic myopia*. Kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, seperti *miopic maculopathy*, stafiloma posterior, hingga kerusakan saraf optik yang berpotensi menyebabkan penurunan kualitas penglihatan secara permanen.
Selain faktor genetik, perubahan gaya hidup modern menjadi kontributor utama peningkatan kasus ini. Tingginya beban akademis, minimnya aktivitas di luar ruangan, serta durasi penggunaan gawai yang berlebihan membuat anak-anak lebih rentan terhadap gangguan mata. Hal ini menuntut adanya kesadaran orang tua untuk memantau kesehatan mata buah hati mereka sedini mungkin.
Sebagai upaya mitigasi, Perdami kini menjalin kemitraan strategis dengan EssilorLuxottica Indonesia untuk memperkuat edukasi deteksi dini dan manajemen miopia berbasis bukti ilmiah. Kolaborasi ini juga mencakup penerapan teknologi lensa mutakhir, seperti *Highly Aspherical Lenslet Target* (H.A.L.T.), yang dirancang tidak hanya untuk mengoreksi penglihatan, tetapi juga memperlambat pemanjangan sumbu bola mata pada anak-anak.