Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) memang merevolusi efisiensi teknis dalam dunia sinematografi. Namun, para pelaku industri menegaskan bahwa esensi utama sebuah karya film, yakni emosi dan kedalaman cerita, tetap bertumpu sepenuhnya pada kekuatan kreativitas dan kurasi pemikiran manusia.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi panel AI Cinefest 2026 di Jakarta. Immanuel Manurung, seorang pencerita AI sekaligus juri dalam festival film pendek tersebut, menjelaskan bahwa kemudahan teknologi kini memungkinkan siapa saja memproduksi konten visual. Kendati demikian, kemampuan membangun ritme cerita dan menyuntikkan nyawa ke dalam setiap bingkai gambar tetap menjadi pembeda utama antara karya seni sejati dan produk AI yang generik.

Menurut Immanuel, proses kreatif pembuatan film berbasis AI tidak berhenti saat sistem menghasilkan visual. Tantangan sesungguhnya terletak pada tahap pascaproduksi, di mana kreator harus jeli menyeleksi hasil terbaik, menyesuaikan tempo narasi, menyelaraskan efek suara, hingga merangkai dialog demi menyampaikan pesan emosional yang tepat kepada penonton.

Pandangan senada diutarakan oleh Rifqy Yusuf, pendiri Marketplace AI. Ia menekankan bahwa kepekaan seni dalam memilih sudut pandang (angle) dan menyampaikan rasa adalah aspek krusial yang tidak dimiliki oleh mesin. Keberanian untuk mengurasi dan memilah puluhan draf video yang dihasilkan AI juga menjadi keterampilan penting bagi seorang sutradara masa kini.

Lebih lanjut, Rifqy mengingatkan para pembuat film untuk memahami karakteristik unik dari setiap model kecerdasan buatan. Penguasaan alat ini sangat penting agar sineas dapat mengoptimalkan hasil produksi dengan tetap menjaga efisiensi anggaran operasional.