Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental, terutama bagi anak dan remaja. Menurutnya, komunikasi yang hangat, terbuka, dan rutin antara orang tua dan anak perlu terus dibangun di tengah meningkatnya tantangan kehidupan modern.

Wihaji menyampaikan, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga perlu hadir secara emosional. Kebiasaan mengajak anak berbicara, berdiskusi, dan mendengarkan keluh kesah mereka dinilai menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah munculnya persoalan psikologis.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi digital. Teknologi, kata Wihaji, seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu kehidupan, bukan justru membuat manusia kehilangan kendali dan terlalu bergantung pada perangkat digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat berdialog bersama Wali Kota Yogyakarta dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Jumat, 26 Juni 2026. Dalam forum itu, isu kesehatan mental menjadi salah satu perhatian utama pemerintah.

Wihaji menilai penanganan kesehatan mental tidak bisa dibebankan kepada satu institusi saja. Diperlukan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, sekolah, orang tua, hingga anak-anak agar upaya pencegahan dan penanganan berjalan lebih efektif.

Menurutnya, pemerintah memandang gangguan kesehatan mental sebagai persoalan serius yang perlu ditangani secara sistematis. Karena itu, kampanye mengenai kesiapan membangun generasi masa depan yang sehat secara fisik dan mental perlu terus diperkuat di berbagai daerah.

Wihaji juga menilai Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki posisi strategis dalam penguatan kampanye kesehatan mental. Karakter wilayah yang beragam dan dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang disebut dapat menjadi ruang pembelajaran penting dalam merumuskan model penanganan yang lebih inklusif.

Ia berharap Yogyakarta dapat menjadi titik awal penguatan gerakan komunikasi keluarga sebagai salah satu fondasi pencegahan gangguan kesehatan mental. Pendekatan berbasis keluarga dinilai relevan karena persoalan mental kerap bermula dari lingkungan terdekat.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan pemerintah kota siap menindaklanjuti arahan tersebut melalui penguatan deteksi dini gangguan kesehatan mental, khususnya di lingkungan sekolah. Skrining tersebut akan dilengkapi dengan alur rujukan bertahap dari sekolah ke puskesmas hingga rumah sakit bila diperlukan.

Hasto menjelaskan, Kota Yogyakarta telah memiliki layanan Adolescent Health Center di rumah sakit sebagai bagian dari perhatian terhadap kesehatan remaja. Keberadaan layanan tersebut diharapkan mampu memperkuat penanganan masalah psikologis yang dialami pelajar dan generasi muda.

Ia mengakui, dinamika sosial di Yogyakarta yang sangat beragam turut memengaruhi kondisi kesehatan mental masyarakat. Karena itu, sistem penanganan yang terpadu, responsif, dan berkelanjutan menjadi kebutuhan penting.

Hasto berharap Daerah Istimewa Yogyakarta dapat berkembang menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan kesehatan mental. Menurutnya, keberhasilan tidak semata dilihat dari banyaknya kasus yang tertangani, tetapi juga dari kuatnya sistem pencegahan, deteksi dini, pendampingan, dan rujukan yang berjalan secara terintegrasi.