Bagi banyak pegiat olahraga seperti pelari atau pesepeda, keluhan perut mual, nyeri ulu hati, hingga diare mungkin menjadi kendala yang tidak asing. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang langka, mengingat riset dalam Current Sports Medicine Reports tahun 2019 menunjukkan bahwa sekitar 70 persen atlet pernah merasakan gangguan pencernaan, dengan estimasi angka di lapangan yang kemungkinan jauh lebih tinggi.

Para ahli di bidang medis dan kepelatihan kebugaran mencatat bahwa intensitas gejala ini bervariasi pada setiap individu. Profesor kedokteran dari Harvard Medical School, J. Thomas LaMont, M.D., mengungkapkan bahwa kaum perempuan cenderung lebih rentan mengalami masalah pencernaan fungsional. Meski gejalanya seringkali dianggap tidak berbahaya, ketidaknyamanan tersebut acap kali memicu keengganan seseorang untuk tetap konsisten menjalankan rutinitas olahraga.

Penyebab utama dari masalah ini berakar pada mekanisme fisiologis tubuh saat beraktivitas fisik. Ketika otot bekerja keras, tubuh akan memprioritaskan distribusi aliran darah menuju otot-otot tersebut untuk mendukung kinerja fisik. Konsekuensinya, pasokan darah yang seharusnya dialokasikan untuk organ pencernaan guna memproses nutrisi menjadi berkurang drastis, sehingga memicu gangguan pada fungsi lambung.

Selain faktor biologis, pola makan dan penggunaan obat-obatan memegang peranan krusial. Pendiri Sports Science Insights, Bob Murray, Ph.D., menjelaskan bahwa toleransi tubuh terhadap waktu makan sebelum berlatih sangat beragam antarindividu. Di sisi lain, dokter spesialis olahraga Daphne Scott, M.D., memberikan peringatan khusus terkait penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen. Konsumsi obat jenis ini yang tidak tepat dosis sebelum berolahraga disinyalir menjadi salah satu pemicu utama munculnya rasa mual selama latihan, terutama pada intensitas tinggi.