SURABAYA – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Nanda Noer Damayanti, mahasiswi Program Studi S1 Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), yang berhasil melaju ke babak nasional Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Perguruan Tinggi Tahun 2026 dalam kategori Biologi. Pencapaian ini diraih setelah ia melewati serangkaian tahapan seleksi yang sangat kompetitif selama kurang lebih tiga bulan.
Kecintaan Nanda terhadap dunia sains bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Sejak menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia sudah menunjukkan ketertarikan kuat pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Prestasi akademiknya yang konsisten di bidang tersebut kemudian mendorongnya untuk menempuh pendidikan di SMK Kesehatan, yang semakin memperdalam passionnya terhadap ilmu sains. "Sejak kecil saya memang menyukai pelajaran IPA. Saat masuk SMK kesehatan, ketertarikan saya terhadap bidang sains semakin berkembang dan membuat saya ingin mendalami ilmu ini lebih jauh," tuturnya.
Keinginan untuk mengukur kapasitas diri dan keluar dari zona nyaman menjadi dorongan utama Nanda mendaftarkan diri dalam ajang ONMIPA. Baginya, kompetisi bergengsi ini merupakan wadah strategis untuk mengasah potensi akademik sekaligus meraih pengalaman berharga yang sulit didapatkan di ruang kelas.
Perjalanan menuju panggung nasional menuntut Nanda melewati proses penyaringan yang bertahap dan penuh persaingan. Pada seleksi internal kampus, ia harus bersaing dengan sekitar 120 mahasiswa dari berbagai program studi di UNUSA. Dari keseluruhan peserta tersebut, hanya 25 orang yang berhasil lolos ke tahap berikutnya, dengan alokasi lima peserta untuk setiap bidang lomba.
Tantangan semakin berat pada seleksi tingkat wilayah yang digelar oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII. Di tahap ini, Nanda harus menghadapi ribuan peserta yang berasal dari 282 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berkat persiapan matang, ia berhasil menembus babak final tingkat nasional yang hanya diikuti oleh sekitar 260 mahasiswa terpilih dari penjuru Nusantara. Keseluruhan proses seleksi berlangsung dari April hingga Juni 2026.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Nanda selama persiapan adalah manajemen waktu. Sebagai mahasiswi kebidanan yang padat dengan kegiatan praktikum dan penyusunan laporan harian, ia harus mencuri waktu ekstra untuk mendalami materi dan berlatih menyelesaikan soal-soal analitis bertingkat tinggi. "Persiapan ONMIPA membutuhkan waktu yang cukup panjang karena soal yang dihadapi tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kemampuan analisis yang mendalam," jelasnya.
Meski penuh tekanan, pengalaman berkompetisi di level nasional memberikan kesan mendalam bagi mahasiswi asal Surabaya ini. Ia mengaku sangat terkesan dengan kesempatan bertemu dan bertukar perspektif dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Interaksi langsung dengan para juara ONMIPA tahun-tahun sebelumnya juga menjadi sumber inspirasi yang memperkuat semangatnya. "Bisa bertemu teman-teman dari luar pulau, mendengar cerita perjuangan mereka, dan berinteraksi dengan para juara ONMIPA sebelumnya membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar dan berkembang," ungkapnya.
Dalam mempersiapkan diri menghadapi olimpiade, Nanda tidak berjuang sendirian. Ia mendapatkan bimbingan intensif dari dosen-dosen ahli di UNUSA, di samping juga melakukan pembelajaran mandiri melalui berbagai referensi ilmiah. Pengalaman ini membuka matanya akan luasnya cakupan ilmu sains, yang justru memicu semangatnya untuk terus meningkatkan kompetensi. "Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kemampuan yang saya miliki masih perlu terus diasah. Saya masih dalam proses belajar dan membutuhkan waktu untuk berkembang menjadi lebih baik," katanya.
Kepada rekan-rekan mahasiswa yang berminat mengikuti ONMIPA di masa mendatang, Nanda memberikan sejumlah saran praktis: tekun belajar, rutin berlatih soal, melakukan evaluasi diri secara berkala, serta aktif mencari bimbingan dari dosen yang kompeten. "Yang tidak kalah penting adalah meminta doa dan restu dari orang tua, keluarga, guru, dosen, dan teman-teman. Tetap berusaha, belajar, dan berdoa," pungkasnya.