Pasar saham global tengah menghadapi tekanan seiring melonjaknya yield obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sentimen negatif ini memicu koreksi tajam di bursa Asia, termasuk indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan, menyusul pelemahan beruntun di Wall Street selama tiga sesi terakhir.
Investor saat ini bersikap hati-hati guna mengantisipasi rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Federal Reserve bulan Juli. Risalah ini diharapkan memberikan petunjuk krusial mengenai arah kebijakan suku bunga acuan AS di tengah kekhawatiran bahwa tingginya biaya pinjaman dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Di sektor ekuitas, emiten teknologi dan telekomunikasi menjadi kelompok dengan kinerja terburuk pekan ini. Kenaikan suku bunga pasar telah menyeret jatuh indeks VanEck Semiconductor ETF sebesar 4,1 persen, dengan saham produsen cip seperti Micron, Teradyne, dan Marvell tergerus hingga 9 persen. Saham raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics, juga merosot lebih dari 7 persen meskipun baru saja mengumumkan investasi manufaktur senilai US$158 juta di Gwangju.
Sebaliknya, sektor energi mencatatkan kinerja gemilang yang didorong oleh tingginya margin penyulingan dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$91 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz pasca-berakhirnya masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Di tengah fluktuasi pasar, laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan ritel besar seperti Target, Lowe’s, dan Estée Lauder kini menjadi fokus perhatian investor. Di Asia, debut perdana produsen robotik asal China, Unitree Robotics, di Bursa Efek Shanghai mencatatkan lonjakan harga saham hingga 630 persen, mencerminkan tingginya antusiasme pemodal ritel terhadap sektor inovasi teknologi.