Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Airlangga (UNAIR) resmi mempererat kerja sama strategis demi memperkuat kemandirian sektor kesehatan di Indonesia. Kemitraan ini secara khusus memfokuskan riset pada penanganan penyakit infeksi tropis, pengembangan vaksin, obat-obatan, serta berbagai produk biologi kesehatan. Langkah ini diambil guna mempercepat hilirisasi hasil riset agar dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Sinergi kelembagaan tersebut ditandai dengan kunjungan delegasi Institute of Tropical Disease (ITD) serta Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) UNAIR ke Organisasi Riset (OR) Kesehatan BRIN yang berlokasi di Cibinong. Pertemuan ini tidak hanya menjadi wadah evaluasi kerja sama antarpeneliti yang selama ini telah berjalan secara informal, melainkan juga untuk merumuskan kemitraan formal yang lebih terstruktur di tingkat institusi.
Kepala OR Kesehatan BRIN, Prof. NLP Indi Dharmayanti, mengungkapkan pentingnya peningkatan status kerja sama ini. Melalui kolaborasi formal, kedua belah pihak dapat mengakses skema pendanaan bersama serta mengoptimalkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Salah satu program konkret yang ditawarkan adalah peluang melanjutkan pendidikan doktor bagi para peneliti dari kedua institusi tersebut.
Dari pihak akademisi, perwakilan ITD UNAIR, dr. Priyo Budi Purwono, menjelaskan bahwa fokus penelitian mereka kini telah bertransformasi dari riset dasar ke tingkat aplikatif. Selama dua dekade terakhir, ITD UNAIR konsisten meneliti penyakit endemik seperti tuberkulosis, malaria, dan hepatitis. Kini, arah riset didorong menuju pembuatan alat diagnostik, surveilans penyakit, serta uji klinis yang bermitra langsung dengan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).
Sementara itu, Direktur Riset dan Inovasi UNAIR, Dr. Purwo Sri Rejeki, menegaskan kesiapan institusinya untuk memanfaatkan berbagai fasilitas modern milik BRIN. Universitas Airlangga memiliki kelompok riset yang kuat yang dapat disinergikan dengan infrastruktur canggih BRIN, seperti laboratorium genomik dan fasilitas Cryogenic Electron Microscopy (Cryo-EM) di Cibinong. Sinergi infrastruktur ini diyakini mampu mempercepat inovasi kesehatan di tanah air.