Hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kembali memanas. Pemerintah China secara terbuka mengecam rencana Amerika Serikat (AS) yang berniat melarang impor pemancar optik (optical transceivers) terbaru asal Negeri Tirai Bambu, serta menyusun kebijakan tarif baru untuk produk polisilikon.
Beijing menilai langkah proteksionisme yang diambil Washington merupakan bentuk penyalahgunaan isu keamanan nasional. Menurut otoritas China, dalih tersebut sengaja digunakan oleh pemerintah AS hanya untuk menekan laju perkembangan perusahaan-perusahaan teknologi asing di pasar global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa tindakan AS memperluas definisi keamanan nasional demi membatasi aktivitas bisnis asing sangat tidak dapat dibenarkan. Kebijakan ini dinilai tidak akan mendongkrak daya saing industri domestik AS, melainkan justru mengganggu stabilitas investasi bilateral.
Lebih lanjut, Lin Jian memaparkan bahwa proteksionisme sepihak ini merugikan kepentingan pelaku usaha dan konsumen di kedua belah pihak. Sebagai respons atas tekanan tersebut, Pemerintah China menyatakan komitmennya untuk mengambil tindakan tegas guna melindungi hak-hak hukum serta kepentingan sah perusahaan domestik mereka.
Ketegangan ini semakin meruncing setelah pemerintahan Presiden AS sebelumnya mengumumkan penerapan tarif sebesar 15 persen untuk produk turunan polisilikon. Komoditas tersebut merupakan bahan baku krusial yang digunakan dalam pembuatan panel surya serta perangkat semikonduktor global.