WAMENA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengambil langkah strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Provinsi Papua Pegunungan. Melalui kemitraan dengan 14 rumah sakit rujukan nasional, pemerintah pusat berupaya memastikan masyarakat di wilayah pegunungan memperoleh akses layanan medis berkualitas tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke luar daerah.
Penandatanganan kesepakatan bersama dan perjanjian kerja sama tersebut digelar di Wamena pada Jumat (26/6/2026). Program ini merupakan bagian dari skema pengampuan layanan prioritas yang mencakup berbagai bidang krusial, mulai dari penanganan penyakit jantung, stroke, kanker, gangguan ginjal, hingga kesehatan ibu dan anak, tuberkulosis, diabetes melitus, kesehatan jiwa, serta layanan kesehatan mata.
Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membawa pendampingan langsung dari rumah sakit besar di Indonesia kepada fasilitas kesehatan di Papua Pegunungan. "Kami berharap fasilitas pelayanan kesehatan di daerah, khususnya rumah sakit, mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Obrin mengakui bahwa penanganan penyakit prioritas seperti jantung, stroke, gangguan ginjal, serta pelayanan ibu dan anak masih menjadi tantangan besar di wilayah tersebut. Oleh karena itu, rumah sakit pengampu akan hadir membimbing dan mendampingi tenaga medis setempat agar mampu menangani kasus-kasus tersebut secara mandiri.
Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Kemenkes juga berkomitmen melengkapi sarana, prasarana, serta peralatan medis di rumah sakit yang tersebar di delapan kabupaten. "Kami juga melengkapi berbagai alat kesehatan dan infrastruktur pendukung agar setiap rumah sakit di Papua Pegunungan memiliki layanan kesehatan yang setara dengan rumah sakit di kabupaten lain di Indonesia," tegas Obrin.
Sebagai gambaran konkret, Obrin menyebutkan bahwa ke depan rumah sakit di Papua Pegunungan diharapkan mampu melakukan tindakan kateterisasi hingga pemasangan ring jantung. Dengan demikian, pasien serangan jantung tidak perlu lagi dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar wilayah. "Penanganan kasus jantung, stroke, maupun penyakit ginjal tidak perlu lagi dibawa ke daerah lain di luar Papua Pegunungan," tegasnya.
Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai kerja sama antara Kemenkes, pemerintah daerah, dan 14 rumah sakit rujukan nasional sebagai langkah monumental dalam memperkuat sistem kesehatan di wilayah pegunungan. "Ini merupakan kerja sama yang luar biasa. Seluruh direktur rumah sakit ternama hadir dan membangun kemitraan dengan kami serta para bupati dari delapan kabupaten," kata Tabo.
Gubernur meyakini kerja sama ini akan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit di luar Papua karena layanan kesehatan di daerah akan semakin lengkap dan memadai. Ia juga mendesak pemerintah pusat untuk membuka akses pendidikan kedokteran dan profesi kesehatan yang lebih luas bagi putra-putri asli Papua Pegunungan.
"Sumber daya manusia dari wilayah pegunungan harus menjadi dokter, tenaga kesehatan, dan profesional di berbagai bidang lainnya. Melalui kerja sama ini, kami membangun fondasi sejak awal agar ke depan dapat mengukur hasil yang dicapai," pungkas John Tabo.