Kondisi kesehatan mental generasi muda di Indonesia kini berada dalam fase yang memprihatinkan. Berdasarkan data skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi Kementerian Kesehatan terhadap ribuan pelajar, ditemukan fakta bahwa satu dari 50 remaja berusia 15 hingga 24 tahun tengah berjuang melawan depresi. Paparan media sosial yang intensif serta tingkat ketergantungan yang tinggi pada gawai ditengarai menjadi faktor pemicu utama melonjaknya kecemasan di kalangan usia produktif ini.

Temuan yang jauh lebih mengkhawatirkan menunjukkan bahwa satu dari sepuluh pelajar berusia 13 hingga 17 tahun mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari sekali dalam setahun terakhir. Data statistik ini menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan bahwa gangguan kesehatan mental pada kelompok remaja memerlukan penanganan yang terintegrasi dan segera.

Krisis ini nyata dan dapat melanda siapa saja, seperti yang pernah dialami oleh figur publik Ariel Tatum. Aktris tersebut secara terbuka membagikan perjuangan masa remajanya saat menghadapi fase kelam hingga didiagnosis mengidap Borderline Personality Disorder (BPD). Melalui dukungan keluarga yang suportif serta proses terapi yang panjang bersama psikolog dan psikiater, ia perlahan berhasil mengelola kondisi mentalnya.

Menanggapi fenomena ini, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode transisi yang sangat rentan karena diiringi perkembangan fisik, emosi, dan peran sosial. Kendati demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru melabeli setiap gejolak emosi remaja sebagai gangguan jiwa, sebab fase krisis tersebut merupakan bagian alami dari proses pendewasaan diri.

Peran orang tua di rumah menjadi sangat krusial dalam mendeteksi perubahan perilaku anak. Rahmat menekankan pentingnya menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda tidak wajar, seperti mengurung diri secara ekstrem atau kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, komunikasi persuasif dan pendampingan ke tenaga profesional harus segera diupayakan.

Lebih lanjut, upaya deteksi dini melalui program skrining kesehatan di institusi pendidikan dinilai perlu diikuti dengan langkah penanganan konkret. Menurut Rahmat, melakukan identifikasi tanpa menyediakan akses rehabilitasi atau pengobatan yang memadai tidak akan menyelesaikan akar masalah. Kesadaran kolektif untuk menghapus stigma negatif terhadap isu kesehatan mental menjadi kunci agar para remaja tidak ragu mencari bantuan medis.