Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah progresif dalam menekan angka penularan Tuberkulosis (TBC). Langkah ini diwujudkan dengan mengintegrasikan metode pelacakan aktif atau Active Case Finding (ACF) ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Inisiatif tersebut menyasar 52 titik strategis di seluruh wilayah Kota Yogyakarta mulai 31 Juli hingga 19 November 2026.

Upaya intensif ini selaras dengan kebijakan pemerintah pusat di era Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan penanggulangan TBC sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win). Strategi nasional ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni deteksi dini, tata laksana kasus, serta langkah pencegahan yang komprehensif.

Pemegang Program P2P Tuberkulosis Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Setyogati Candra Dewi, menjelaskan bahwa penggabungan metode ACF dan CKG terbukti efektif dalam menjaring kasus-kasus TBC yang selama ini tidak terdeteksi di masyarakat. Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan menerapkan dua metode penyaringan, yakni skrining gejala klinis serta pemeriksaan fisik menggunakan perangkat rontgen portabel (portable X-ray) yang dinilai lebih akurat.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Srirahayu, memaparkan bahwa program ini didanai oleh APBN tahun anggaran 2026 melalui skema Swakelola Tipe II. Dari target 52 lokasi, sebanyak 25 titik akan dilayani dengan alat rontgen portabel, sedangkan 27 titik lainnya fokus pada skrining gejala awal dengan sistem rujukan pemeriksaan lanjutan ke RS Pratama.

Program yang berlangsung pada semester kedua tahun 2026 ini tersebar di 45 kelurahan. Selain menyasar kawasan pemukiman warga, pemeriksaan ini juga menjangkau area perkantoran serta lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) demi memastikan deteksi penyakit yang inklusif dan merata.