JAKARTA — Perjalanan Astra International Tbk. (ASII) memasuki babak penting pada awal 2000-an, ketika perusahaan otomotif besar itu masih berupaya keluar dari tekanan panjang pascakrisis moneter. Dalam periode tersebut, posisi Jardine Cycle & Carriage (JC&C) sebagai pemegang pengaruh besar di Astra semakin menguat.
Situasi Astra pada 2002 belum sepenuhnya pulih. Kendati krisis moneter telah berlalu dan kepemilikan perusahaan tidak lagi berada di tangan keluarga William Soeryadjaya, kinerja perseroan masih menghadapi tekanan berat. Penjualan Astra pada semester pertama tahun itu tercatat turun 19%.
Tekanan tersebut juga terlihat dari pangsa pasar Astra yang merosot menjadi 42,7%. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemulihan industri dan daya beli pasar belum berjalan mulus, sementara perseroan tetap harus menjaga posisi bisnisnya di tengah kompetisi yang ketat.
Di tengah tantangan tersebut, Astra kembali menempuh langkah restrukturisasi utang. Salah satu opsi yang ditempuh adalah penerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue, sebuah langkah korporasi yang lazim digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan menata kembali kewajiban keuangan.
Momentum inilah yang menjadi bagian dari penguatan pengaruh JC&C di Astra. Setelah gejolak krisis mereda, perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Jardine itu semakin menancapkan perannya dalam arah kepemilikan dan pengelolaan Astra.
Kisah tersebut menjadi salah satu fase penting dalam sejarah bisnis Astra. Dari perusahaan yang sempat terpukul krisis, Astra kemudian memasuki masa konsolidasi dengan dukungan pemegang saham strategis, termasuk Jardine Cycle & Carriage, yang kelak menjadi salah satu kekuatan utama di balik perjalanan perseroan.