CEO Palantir, Alex Karp, melontarkan kritik tajam terhadap arah perkembangan industri kecerdasan buatan (AI). Ia memperingatkan bahwa beberapa pengembang model AI raksasa kini menunjukkan kecenderungan "Marxis" dengan mencoba menguasai "alat produksi" digital milik perusahaan mitra yang menggunakan layanan mereka.
Kritik tersebut disampaikan Karp dalam surat kuartalan kepada para pemegang saham Palantir. Ia mengaitkan fenomena ini dengan teori ekonomi klasik tentang penguasaan alat produksi, namun menerapkannya dalam konteks modern berupa kepemilikan data, kekayaan intelektual, dan pengetahuan bisnis yang kini rentan dicaplok oleh penyedia teknologi AI.
Menurut Karp, banyak perusahaan tanpa sadar menyerahkan aset strategis mereka saat menggunakan jasa pihak ketiga untuk memproses AI. Data yang diserahkan tersebut kemudian digunakan oleh penyedia model bahasa besar (LLM) untuk melatih kecerdasan buatan mereka sendiri, yang pada akhirnya dapat melahirkan produk pesaing baru bagi klien aslinya.
Menghadapi ancaman ketergantungan tersebut, Palantir memosisikan diri sebagai penyedia perangkat lunak yang netral atau "model-agnostic". Pendekatan ini diklaim memberikan kontrol penuh kepada pengguna atas data dan alur keputusan mereka, tanpa khawatir kekayaan intelektual mereka disalahgunakan oleh pengembang AI raksasa.
Di sisi lain, kekhawatiran Karp mencuat di tengah lonjakan performa finansial perusahaannya sendiri. Pada kuartal kedua tahun ini, Palantir mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sebesar 1,1 miliar dolar AS dari total pendapatan yang mencapai 1,9 miliar dolar AS, didorong oleh tingginya adopsi teknologi analitik dan AI secara global.