Langkah FIFA menggandeng ExpressVPN sebagai sponsor resmi Piala Dunia 2026 kini menghadapi gelombang protes dari para pemangku kepentingan industri sepak bola Eropa. LaLiga, bersama dengan sejumlah operator penyiaran olahraga asal Prancis, secara resmi melayangkan keberatan kepada induk organisasi sepak bola dunia tersebut atas kemitraan yang dinilai kontraproduktif terhadap upaya perlindungan hak siar eksklusif.

Presiden LaLiga, Javier Tebas, dalam surat protesnya kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, menegaskan bahwa kesepakatan tersebut mencederai prinsip perlindungan hak audiovisual. Tebas berargumen bahwa menggandeng perusahaan VPN yang saat ini tengah terjerat sengketa hukum terkait pembajakan konten olahraga, justru mengirimkan sinyal negatif bagi klub serta pemegang hak siar yang telah berinvestasi besar demi menjaga ekosistem penyiaran yang sehat.

Ketegangan ini berakar dari putusan hukum di Prancis pada Mei 2025, di mana pengadilan memerintahkan sejumlah penyedia layanan VPN—termasuk ExpressVPN—untuk memblokir ratusan domain yang menyiarkan kompetisi secara ilegal. Pihak broadcaster seperti Canal+ dan organisasi APPS menyoroti bahwa layanan VPN sering disalahgunakan untuk mengakses konten berbayar tanpa izin, yang secara langsung mengancam nilai ekonomi liga-liga besar seperti Ligue 1 dan Liga Champions.

Di sisi lain, ExpressVPN membantah tuduhan tersebut dengan menekankan bahwa layanan mereka dirancang untuk privasi dan keamanan digital, bukan untuk memfasilitasi tindakan melanggar hukum. Perusahaan tersebut menegaskan bahwa mereka tidak pernah dinyatakan bersalah atas tuduhan memfasilitasi pembajakan di berbagai yurisdiksi, seraya mengklaim bahwa peran mereka dalam Piala Dunia adalah untuk melindungi keamanan data para suporter.

Menanggapi polemik yang berkembang, FIFA menyatakan bahwa setiap kesepakatan komersial telah melalui proses evaluasi komprehensif. Pihak FIFA mengklaim telah mengkaji dampak kemitraan ini dan memastikan bahwa kerja sama tersebut tidak akan menghambat langkah para pemegang hak siar dalam memberantas pembajakan konten, meskipun desakan dari berbagai liga di Eropa terus mengalir agar integritas komersial sepak bola tetap terjaga.