Situasi keamanan yang mengancam mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah laporan mengenai adanya ancaman pembunuhan spesifik yang berasal dari Iran. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai media Amerika Serikat, pihak intelijen Israel dikabarkan telah memberikan data intelijen terbaru kepada Washington terkait plot tersebut.

CNN dan Wall Street Journal, dengan mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa peringatan dari Israel ini dianggap sebagai informasi baru yang krusial. Meskipun pihak berwenang di Washington telah memantau berbagai laporan ancaman selama beberapa waktu, detail yang disampaikan oleh Israel dinilai memiliki urgensi dan spesifikasi yang berbeda dibandingkan ancaman-ancaman sebelumnya.

Motivasi Teheran diyakini masih berakar pada dendam atas kematian Komandan Pasukan Quds, Qassem Soleimani, yang tewas dalam serangan udara atas perintah Trump pada Januari 2020. Sejak insiden tersebut, Iran secara konsisten bersumpah akan melakukan aksi balasan terhadap tokoh-tokoh utama Amerika yang dianggap bertanggung jawab.

Menanggapi ancaman tersebut, Trump sendiri secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah mengetahui posisi dirinya dalam daftar target Teheran. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan kesadaran akan bahaya yang mengintai, sembari menyinggung riwayat panjang upaya penargetan terhadap dirinya, termasuk insiden penembakan pada tahun 2024 yang sempat mencederai telinganya saat berkampanye.

Eskalasi ancaman ini menambah kekhawatiran global di tengah memanasnya kembali tensi antara Washington dan Teheran. Hingga saat ini, pihak keamanan AS terus memperketat pengawasan terhadap Trump guna mengantisipasi segala bentuk ancaman nyata yang mungkin terjadi di masa mendatang.