Pemerintah Indonesia dan Australia secara resmi meluncurkan program Katalis 2.0 sebagai babak baru dalam implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif kedua negara (IA-CEPA). Inisiatif ini hadir sebagai langkah strategis untuk memperluas cakupan kolaborasi multisektor, mulai dari perdagangan barang dan jasa, investasi, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Program ini merupakan suksesi dari fase pertama yang telah berjalan selama periode 2021-2025. Pemerintah Australia memberikan komitmen pendanaan signifikan dengan alokasi lebih dari 33 juta dolar AS untuk penguatan hubungan antarinstitusi, serta tambahan 40 juta dolar AS untuk pengembangan peluang bisnis baru yang terintegrasi dengan ekosistem ekonomi kedua negara.

Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap IA-CEPA guna memastikan optimalisasi kerja sama. Sektor pendidikan dan kesehatan menjadi fokus utama, di mana kehadiran institusi pendidikan Australia diharapkan dapat memberikan akses internasional bagi warga lokal, sementara kolaborasi layanan kesehatan difokuskan pada transfer pengetahuan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Selain itu, penguatan sektor UMKM menjadi agenda krusial dalam program ini. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas pelaku usaha domestik agar mampu menembus pasar ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi, mencontoh kesuksesan hilirisasi produk cokelat premium Indonesia yang kini mulai kompetitif di pasar Australia.

Di sisi lain, Deputi Bidang Pengembangan Makro Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan bahwa Katalis 2.0 selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 dan RPJMN 2025-2029. Transformasi ekonomi Indonesia menuntut keterlibatan multipihak—mulai dari akademisi, sektor swasta, hingga mitra internasional—guna menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang.