Ancaman kemarau panjang pada 2026 mendorong para pakar dan pemerintah untuk mempercepat langkah strategis dalam menjaga ketersediaan pakan ternak di seluruh Indonesia. Prof. Luki Abdullah, Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB University yang juga menjadi Pakar Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian, mengingatkan bahwa persiapan menghadapi musim kering harus dimulai jauh sebelum dampaknya terasa di lapangan.

Mengacu pada proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung sejak April hingga Juni, dengan intensitas tertinggi terjadi pada periode Juli hingga September, khususnya di bulan Agustus. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi besar menekan pasokan pakan ternak secara nasional, sehingga memerlukan respons yang terencana dan menyeluruh.

Prof. Luki menekankan bahwa penguatan sistem pakan berbasis sumber daya lokal merupakan strategi paling relevan untuk menghadapi tekanan kekeringan. Menurutnya, pengembangan kebun hijauan pakan ternak, pemanfaatan lahan-lahan marginal yang selama ini kurang produktif, serta penyimpanan cadangan pakan sejak musim penghujan harus diperluas cakupannya. Selain itu, teknologi pengawetan pakan seperti silase dan hay dinilai semakin krusial untuk memastikan ketersediaan nutrisi bagi ternak sepanjang musim kering.

Akademisi tersebut juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi krisis pakan tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah oleh satu pihak saja. Kolaborasi menyeluruh yang melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha peternakan, dan kelompok peternak di tingkat akar rumput mutlak diperlukan. Integrasi perencanaan pakan dari hulu hingga hilir menjadi prasyarat agar stabilitas pasokan tetap terjaga. Prof. Luki turut menyoroti besarnya potensi limbah pertanian yang dapat dioptimalkan sebagai sumber pakan alternatif.

Sejalan dengan peringatan tersebut, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan subsektor peternakan melalui jalur inovasi dan kolaborasi multipihak. Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, menyampaikan komitmen itu dalam forum Webinar Pakan Series #7 yang diselenggarakan pada 22 Juni 2026. Kegiatan tersebut secara khusus membahas ragam strategi untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor peternakan.

Sejumlah strategi konkret yang mengemuka dalam forum itu meliputi optimalisasi lahan pakan, pengembangan jenis hijauan yang adaptif terhadap kondisi kering, konservasi pakan melalui teknologi fermentasi, serta pemanfaatan limbah hasil pertanian. Kementerian Pertanian menilai sinergi antara pemerintah, kalangan akademisi, dunia usaha, dan peternak merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan pakan nasional di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata.