Jakarta — Menjelang dimulainya semester ganjil 2026, lanskap pencarian hunian di kalangan mahasiswa mengalami transformasi signifikan. Survei terkini yang dilakukan oleh Cove, penyedia layanan co-living modern, mengungkapkan bahwa generasi muda perguruan tinggi saat ini semakin bergantung pada ekosistem digital untuk menemukan tempat tinggal, dengan menempatkan privasi dan kedekatan lokasi dengan kampus sebagai prioritas utama.
Dari total penghuni Cove, segmen mahasiswa menyumbang kontribusi sebesar 12,5 persen. Kelompok ini memiliki dinamika kebutuhan yang unik dibandingkan segmen penyewa lainnya, mengingat mereka harus mengelola keseimbangan antara tuntutan akademik, kehidupan sosial, dan keterbatasan anggaran yang cukup ketat.
Dian Paskalis, Country Director of Growth & VP of Online Marketing Cove, menjelaskan bahwa mahasiswa menginginkan hunian yang mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan secara terintegrasi dalam satu paket dengan biaya yang tetap terjangkau. "Mereka menuntut keseimbangan dalam ruang tinggal: kebutuhan akan kemudahan, ketenangan pribadi, produktivitas, dan interaksi sosial. Tapi di saat yang sama, mereka beroperasi dengan alokasi anggaran yang jauh lebih ketat, umumnya pada kisaran bujet Rp2 juta per bulannya," papar Dian.
Menurutnya, model co-living menjadi jawaban paling efisien atas kebutuhan tersebut. Konsep ini memadukan fungsi hunian dengan berbagai fasilitas pendukung aktivitas akademik maupun sosial, sekaligus menawarkan variasi harga sewa yang lebih fleksibel dan ramah kantong mahasiswa.
Riset tersebut juga menyoroti cepatnya proses pengambilan keputusan mahasiswa dalam memilih tempat tinggal. Sebanyak 63 persen mahasiswa penghuni Cove mengaku membutuhkan waktu kurang dari satu bulan untuk menentukan pilihan kost mereka. Kecepatan ini ditopang oleh kemudahan akses informasi berbasis digital yang semakin masif.
Dalam hal sumber pencarian, konten media sosial khususnya TikTok mendominasi dengan kontribusi 22 persen sebagai kanal utama. Posisi berikutnya ditempati oleh pencarian melalui Google dan Google Maps sebesar 18 persen, serta rekomendasi dari lingkungan keluarga dan pertemanan yang berkontribusi 17 persen. Dominasi kanal digital ini menegaskan bahwa visualisasi kamar, testimoni penghuni, dan ketersediaan informasi yang transparan memegang peranan krusial dalam menentukan pilihan.
Temuan menarik lainnya adalah kecenderungan kuat mahasiswa terhadap privasi personal. Sembilan dari sepuluh responden menyatakan preferensi untuk menempati kamar sendiri ketimbang berbagi dengan penghuni lain. Selain ruang privat, kelengkapan fasilitas seperti akses internet, layanan kebersihan, laundry, dan kedekatan dengan kampus menjadi faktor penentu yang tak kalah penting.
Dari segi destinasi, Jakarta masih menjadi magnet utama bagi mahasiswa perantau. Wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat menjadi kawasan yang paling banyak diburu, mengingat konsentrasi perguruan tinggi negeri dan swasta yang tersebar di tiga area tersebut.
Meskipun proses pencarian berlangsung relatif singkat, mahasiswa tetap menghadapi sejumlah hambatan. Aspek keamanan lingkungan dan aksesibilitas lokasi strategis menjadi kendala terbesar. Di samping itu, kesenjangan antara kualitas hunian yang diinginkan dan kemampuan finansial masih menjadi persoalan klasik yang kerap dihadapi.
Data menunjukkan bahwa 40 persen mahasiswa penghuni Cove memiliki alokasi pengeluaran bulanan antara Rp2 juta hingga Rp5 juta untuk mencukupi seluruh kebutuhan hidup, mencakup biaya sewa, keperluan harian, hingga aktivitas sosial. Kondisi ini menjadikan properti Cove Basics dengan rerata harga sewa sekitar Rp2 juta per bulan sebagai opsi paling diminati.
Pergeseran preferensi ini memberikan sinyal positif bagi industri properti, khususnya segmen co-living. Pelaku usaha di bidang ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk hunian yang tidak sekadar menyediakan tempat berteduh, tetapi juga mampu menunjang produktivitas dan mengakomodasi gaya hidup generasi muda yang semakin terdigitalisasi.