Pemerintah Indonesia mengambil langkah taktis untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena cuaca ekstrem El Nino. Presiden Prabowo Subianto secara khusus menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat dan mempercepat implementasi teknologi ketahanan air di berbagai wilayah yang rawan terdampak.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Presiden dalam rapat terbatas mengenai mitigasi cuaca ekstrem di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, BRIN memaparkan 13 inovasi teknologi pengelolaan air yang terbagi ke dalam empat kategori utama untuk mengatasi krisis air bersih.

Kategori pertama berfokus pada modifikasi cuaca mutakhir yang memanfaatkan pesawat tanpa awak (drone) untuk menyebarkan material semai hujan berupa NaCl berukuran mikro. Sementara kategori kedua menyasar pengolahan air marjinal, seperti teknik biofiltrasi untuk air payau, air gambut, dan limbah, serta teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air layak konsumsi.

Lebih lanjut, BRIN juga menyiapkan teknologi pencarian sumber air baru melalui eksplorasi sungai bawah tanah berbasis metode isotop dan radar penembus tanah (GPR). Kategori terakhir berfokus pada pemanfaatan debit air tanah tawar yang mengalir langsung ke laut melalui akuifer di kawasan pesisir.

Dari seluruh opsi tersebut, Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus pada percepatan teknologi desalinasi air laut serta pemanfaatan air tanah di wilayah pesisir dan sungai bawah tanah. Guna merealisasikan arahan ini, BRIN kini tengah bersinergi erat dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera menerapkan teknologi tersebut secara nyata di sejumlah titik kritis.